Can it be I stayed away too long
Did I leave your mind when I was gone
It's not my thing trying to get back
But this time let me tell you where I'm at
You don't have to worry 'cause I'm coming
Back to where I should have always stayed
And now I've heard the maybe to your story
And it's enough love for me to stay
Can it be I stayed away too long
Did I leave your mind when I was gone
It's not my thing trying to get back
But this time let me tell you where I'm at
[Chorus:]
I wanna, wanna be where you are
Anywhere you are
I wanna, wanna be where you are
Everywhere you are
[Bridge:]
Please don't close the door to our future
There's so many things we haven't tried
I could love you better than I used to
And give you all the love I have inside
[Chorus:]
I wanna, wanna be where you are
Any, any, anywhere you are
I wanna, wanna be where you are
I gotta be where you are
Lagi suka banget sama lagu ini, biasanya suka biasa aja. Suka karena lucu aja suara si MJ pas masih kecil, imut, and sounded so pure and true. Tapi kalo sekarang, sangat sangat sangat suka. Ah emang sih, dia napas aja udah bikin gua jatuh cinta.
Thursday, February 13, 2014
Tuesday, February 4, 2014
Untitled Two
Awalnya aku menghitung hari kepergianmu. Satu jam setelah kepergianmu. Satu hari. Tiga hari. Satu minggu. Sebulan. Sekian bulan. Hingga akhirnya hatiku mati rasa, otakku perlahan tumpul. Sudahkah setahun? Sudah. Sudahkah dua tahun? Entahlah.
Aku mengingat kehidupanku sebelum kamu, yang selalu menyemprotkan pewangi ruangan berbagai macam aroma. Vanilla, strawberry, kadang lemon, kadang jeruk, kadang aroma mawar. Aku bukanlah pecinta pengharum ruangan. Ini harus kulakukan karena aku memiliki Allegra saat itu, anjing labrador retriever hitam pemberian budeku. Untuk mengurangi bau Allegra, aku menyemprotkannya setiap pagi saat baru bangun, mau berangkat kerja, baru pulang, hingga sebelum tidur.
Kemudian kamu datang. Dan mulai memasuki kehidupanku. Kamu yang menjadi lebih sering memandikan Allegra, hampir setiap hari. Kamu yang memasang exhaust-fan di tengah ruangan, untuk memperbaiki sirkulasi udara. Untuk mengurangi bau Allegra berkutat di rumah kontrakan mungilku. Untuk mengurangi pemakaian pengharum ruanganku. Karena kamu benci bau kimia, katamu.
Untuk mengakalinya, selain pemasangan exhaust fan yang kamu lakukan di akhir pekan dan mengganggu waktu tidurku itu, aku meletakkan secangkir kecil biji kopi di penjuru ruangan. Di tengah ruangan, di bawah lukisan yang kubeli saat aku pergi ke Bali. Biji kopi kusimpan di dalam satu wadah berbentuk daun, kamu yang menyarankan, membuat biji kopi penghilang bau itu agar terlihat seperti salah satu properti penghias ruang tamu.
Kuselipkan beberapa daun pandan di bawah tempat tidur kita, di bawah sofa di ruang tengah, dan juga di kamar mandi. Kamu bahagia, katamu. Tidak pernah kau temukan sebuah rumah nyaris tanpa pengharum kimia.
Aku mengganti sofa bed dengan motif bendera inggrisku di ruang tengah dengan sofa nyaman berwarna coklat tua atas permintaanmu. Agar lebih terasa seperti rumah, katamu. Kurelakan sofa bed bendera inggrisku itu, walaupun saat ingin membelinya, aku harus adu mulut dengan seorang ibu-ibu muda yang menyerobot antrian, dan aku harus terburu-buru mencari mesin ATM karena transaksi kartu kreditku ditolak. Belum lagi ternyata waktu pengirimannya ngaret, dijanjikan kurang dari seminggu, ternyata sampai hampir sebulan belum dikirimkan, dan aku adu mulut kembali, dengan petugas customer care toko tersebut.
Kamu menemaniku, saat Allegra akhirnya mati termakan usia. Kau menemaniku, memelukku erat, saat aku menangisi kepergian temanku satu-satunya selama beberapa tahun sebelum kedatanganmu. Aku yang biasanya tidak terlalu suka disentuh orang lain, tidak merasa sesak sama sekali dengan rengkuhanmu. Bahkan, aku merasakan kenyamanan.
Sebulan setelah kepergian Allegra, budeku menawarkan untuk mengadopsi anak anjing milik tetangganya. Anjing labrador retriever hitam lagi, sama seperti Allegra. Dan kamu mengatakan tidak perlu terburu-buru menggantikan Allegra. Toh aku masih merasa sedih dengan kepergiannya. Nanti hatiku yang akan memberitahu kapan waktu yang tepat untuk mengadopsi anjing kembali. Dan akupun menurut.
Enam bulan kemudian, budeku meninggal, karena penyakit diabetes yang telah menggerogoti tubuhnya selama puluhan tahun. Dan akhirnya, aku mengadopsi anjing miliknya, seekor shih tzu mungil, bernama Waltz. Aku tidak pernah menyukai anjing kecil, namun hatiku saat ini, telah terpikat. Dan saat itu kau berkata, selalu ada waktu yang tepat untuk segala sesuatunya, tidak perlu terburu-buru.
Aku masih terbiasa menyimpan sebalok tempe, selusin telur ayam kampung di kulkas. Untuk menghindari kamu kelaparan di tengah malam, dan tidak ada makanan. Gorengkan saja aku tempe dan telur, aku sudah senang, katamu. Sampai sekarang juga aku masih menyimpan indomie rasa ayam spesial di lemari dapur. Hanya kusimpan dua buah setiap bulannya, karena aku tidak mau kamu terlalu sering makan makanan instan sarat pengawet itu.
Aku juga masih menyimpan beberapa pakaianmu di dalam lemari dengan beberapa helai daun pandan di dalamnya. Kemudian seminggu sekali masih kusemprotkan parfum kesukaanmu. Entah telah habis berapa botol sejak kepergianmu. Kusemprotkan ke jaketmu, kuendus aromanya sebelum tidur. Mirip sekali dengan bau kamu sesaat setelah mandi. Hanya saja tidak ada bau keringatmu disitu.
Aku masih sering mengunjungi kedai kesukaanmu. Memesan kopi hitam, serta lasagna dan kadang kutambahkan dengan hot fudge brownie, menu yang selalu kamu pesan setiap kita kesini. Aku duduk di ujung, dekat jendela, dekat colokan tempat kamu mengisi baterai ponselmu yang terlalu sering kau pakai bermain.
Tidak perlu terburu-buru. Itu yang selalu kau katakan. Dan akhirnya, sampai saat ini, aku masih belum mau buru-buru untuk melupakanmu. Toh aku masih membutuhkan sosokmu.
Walaupun ternyata, kau sudah bisa menggantikan aku dengan wanita lain, yang kau genggam erat-erat tangannya itu.
Kamu menemaniku, saat Allegra akhirnya mati termakan usia. Kau menemaniku, memelukku erat, saat aku menangisi kepergian temanku satu-satunya selama beberapa tahun sebelum kedatanganmu. Aku yang biasanya tidak terlalu suka disentuh orang lain, tidak merasa sesak sama sekali dengan rengkuhanmu. Bahkan, aku merasakan kenyamanan.
Sebulan setelah kepergian Allegra, budeku menawarkan untuk mengadopsi anak anjing milik tetangganya. Anjing labrador retriever hitam lagi, sama seperti Allegra. Dan kamu mengatakan tidak perlu terburu-buru menggantikan Allegra. Toh aku masih merasa sedih dengan kepergiannya. Nanti hatiku yang akan memberitahu kapan waktu yang tepat untuk mengadopsi anjing kembali. Dan akupun menurut.
Enam bulan kemudian, budeku meninggal, karena penyakit diabetes yang telah menggerogoti tubuhnya selama puluhan tahun. Dan akhirnya, aku mengadopsi anjing miliknya, seekor shih tzu mungil, bernama Waltz. Aku tidak pernah menyukai anjing kecil, namun hatiku saat ini, telah terpikat. Dan saat itu kau berkata, selalu ada waktu yang tepat untuk segala sesuatunya, tidak perlu terburu-buru.
Aku masih terbiasa menyimpan sebalok tempe, selusin telur ayam kampung di kulkas. Untuk menghindari kamu kelaparan di tengah malam, dan tidak ada makanan. Gorengkan saja aku tempe dan telur, aku sudah senang, katamu. Sampai sekarang juga aku masih menyimpan indomie rasa ayam spesial di lemari dapur. Hanya kusimpan dua buah setiap bulannya, karena aku tidak mau kamu terlalu sering makan makanan instan sarat pengawet itu.
Aku juga masih menyimpan beberapa pakaianmu di dalam lemari dengan beberapa helai daun pandan di dalamnya. Kemudian seminggu sekali masih kusemprotkan parfum kesukaanmu. Entah telah habis berapa botol sejak kepergianmu. Kusemprotkan ke jaketmu, kuendus aromanya sebelum tidur. Mirip sekali dengan bau kamu sesaat setelah mandi. Hanya saja tidak ada bau keringatmu disitu.
Aku masih sering mengunjungi kedai kesukaanmu. Memesan kopi hitam, serta lasagna dan kadang kutambahkan dengan hot fudge brownie, menu yang selalu kamu pesan setiap kita kesini. Aku duduk di ujung, dekat jendela, dekat colokan tempat kamu mengisi baterai ponselmu yang terlalu sering kau pakai bermain.
Tidak perlu terburu-buru. Itu yang selalu kau katakan. Dan akhirnya, sampai saat ini, aku masih belum mau buru-buru untuk melupakanmu. Toh aku masih membutuhkan sosokmu.
Walaupun ternyata, kau sudah bisa menggantikan aku dengan wanita lain, yang kau genggam erat-erat tangannya itu.
Monday, February 3, 2014
Untitled One
Rasanya aku masih dapat mengingat dengan jelas, awal pertemuanku dengannya. Dia memakai kemeja kotak-kotak warna hijau yang sampai sekarang, tiga tahun setelahnya, masih sering ia pakai. Celananya saat itu celana jeans warna biru tua yang robek sedikit di bagian paha depan. Dan celana itu juga masih sering ia pakai sampai sekarang.
Penampilannya saat itu tidak terlalu jauh berbeda dengan sekarang. Seakan wajahnya, rambutnya, kulitnya tidak tersentuh oleh waktu sedikitpun. Aku pun berusaha mengingat perubahan apa yang tampak dari dirinya sekarang dengan tiga tahun yang lalu. Hanya kawat gigi saja. Kawat gigi yang ia pakai sejak SMA telah dilepas satu tahun yang lalu. Selain itu, rasanya semuanya sama.
Perubahan paling besar yang kurasakan adalah sifat dan sikapnya. Dulu, tiga tahun yang lalu kami hanya saling bertegur sapa jika berpapasan. Itu pun tidak setiap hari, bahkan tidak setiap minggu. Walau sejak perkenalan kami yang pertama, mataku selalu mencarinya. Rasanya aku datang ke kampus hanya untuk menatap sosoknya. Meski dari jauh, meski hanya sekelebat. Atau mungkin hanya sekedar mendengar suaranya yang saat itu menjadi semacam disc-jockey untuk radio kampus.
Seiring berjalannya waktu, kami menjadi semakin akrab. Aku sengaja memilih jadwal kuliah yang sama dengannya. Walaupun satu tahun pertama kami tidak selalu duduk berdekatan, namun tidak mengapa, karena berada di satu kelas yang sama saja sudah membuatku sulit berkonsentrasi menyimak dosenku. Dia selalu duduk di barisan tengah agak belakang, sedangkan aku selalu berusaha duduk di depan, agar tidak terganggu dengan suara orang-orang di kelas itu yang asyik berbincang sendiri. Namun dalam beberapa waktu, akhirnya aku duduk mulai agak ke belakang, berusaha mendekatkan diri dengannya, dan temannya.
Dia punya beberapa teman dekat. Andi, Ricki, dan seorang gadis manis berambut hampir cepak bernama Eva. Kehadiran Eva yang selalu berada di dekatnya kadang membuatku terganggu. Eva memiliki semua yang ingin dimiliki wanita. Tubuh tinggi langsing, kulit halus, tulang pipi yang tinggi, dan yang paling mempesona adalah suara tawanya yang renyah serta kerlingan matanya yang manja. Aku mencoba akrab dengan Eva, dan memang pada dasarnya aku merasa lebih cocok dengan Eva daripada dengan kedua temannya yang lain.
Berkat bantuan Eva, aku menjadi lebih akrab dengannya. Makan siang bersama, walau kadang berlima, tapi tak jarang aku hanya makan siang berdua dengannya. Kadang main basket bersama di akhir pekan, meski aku hanya menonton di pinggir lapangan dengan Eva. Ia pun akhirnya menjadi lebih perhatian padaku. Menengokku saat aku sakit demam berdarah dan harus dirawat di Rumah Sakit di bilangan Jakarta Selatan. Bahkan ia menungguiku, ketika keluargaku, yang berdomisili di Bandung, tidak dapat ke Jakarta karena kesibukan masing-masing.
Dan saat akhir pekan, kadang datang ke Bandung, ke rumahku, dan mengobrol dengan kakak laki-lakiku, kadang dengan ibuku. Ia sering memuji ibuku cantik, kecantikannya masih terlihat di usianya yang tidak muda lagi. Dan kemudian setelahnya, ia selalu mengatakan bahwa wajahku mirip sekali dengan ibuku. Dan saat itu pula aku langsung berdebar.
Tidak pernah kusangka aku akan dibuat jungkir-balik seperti ini oleh pemuda berkemeja kotak-kotak hijau yang kukenal tiga tahun yang lalu. Tidak pernah kupikirkan, bahwa aku akan jatuh cinta seperti ini. Bukan hanya sekedar suka karena ia tampan, atau sekedar mengagumi kepintaran si juara kelas, seperti yang sering aku alami sejak masih bocah berseragam putih biru.
Penampilannya saat itu tidak terlalu jauh berbeda dengan sekarang. Seakan wajahnya, rambutnya, kulitnya tidak tersentuh oleh waktu sedikitpun. Aku pun berusaha mengingat perubahan apa yang tampak dari dirinya sekarang dengan tiga tahun yang lalu. Hanya kawat gigi saja. Kawat gigi yang ia pakai sejak SMA telah dilepas satu tahun yang lalu. Selain itu, rasanya semuanya sama.
Perubahan paling besar yang kurasakan adalah sifat dan sikapnya. Dulu, tiga tahun yang lalu kami hanya saling bertegur sapa jika berpapasan. Itu pun tidak setiap hari, bahkan tidak setiap minggu. Walau sejak perkenalan kami yang pertama, mataku selalu mencarinya. Rasanya aku datang ke kampus hanya untuk menatap sosoknya. Meski dari jauh, meski hanya sekelebat. Atau mungkin hanya sekedar mendengar suaranya yang saat itu menjadi semacam disc-jockey untuk radio kampus.
Seiring berjalannya waktu, kami menjadi semakin akrab. Aku sengaja memilih jadwal kuliah yang sama dengannya. Walaupun satu tahun pertama kami tidak selalu duduk berdekatan, namun tidak mengapa, karena berada di satu kelas yang sama saja sudah membuatku sulit berkonsentrasi menyimak dosenku. Dia selalu duduk di barisan tengah agak belakang, sedangkan aku selalu berusaha duduk di depan, agar tidak terganggu dengan suara orang-orang di kelas itu yang asyik berbincang sendiri. Namun dalam beberapa waktu, akhirnya aku duduk mulai agak ke belakang, berusaha mendekatkan diri dengannya, dan temannya.
Dia punya beberapa teman dekat. Andi, Ricki, dan seorang gadis manis berambut hampir cepak bernama Eva. Kehadiran Eva yang selalu berada di dekatnya kadang membuatku terganggu. Eva memiliki semua yang ingin dimiliki wanita. Tubuh tinggi langsing, kulit halus, tulang pipi yang tinggi, dan yang paling mempesona adalah suara tawanya yang renyah serta kerlingan matanya yang manja. Aku mencoba akrab dengan Eva, dan memang pada dasarnya aku merasa lebih cocok dengan Eva daripada dengan kedua temannya yang lain.
Berkat bantuan Eva, aku menjadi lebih akrab dengannya. Makan siang bersama, walau kadang berlima, tapi tak jarang aku hanya makan siang berdua dengannya. Kadang main basket bersama di akhir pekan, meski aku hanya menonton di pinggir lapangan dengan Eva. Ia pun akhirnya menjadi lebih perhatian padaku. Menengokku saat aku sakit demam berdarah dan harus dirawat di Rumah Sakit di bilangan Jakarta Selatan. Bahkan ia menungguiku, ketika keluargaku, yang berdomisili di Bandung, tidak dapat ke Jakarta karena kesibukan masing-masing.
Dan saat akhir pekan, kadang datang ke Bandung, ke rumahku, dan mengobrol dengan kakak laki-lakiku, kadang dengan ibuku. Ia sering memuji ibuku cantik, kecantikannya masih terlihat di usianya yang tidak muda lagi. Dan kemudian setelahnya, ia selalu mengatakan bahwa wajahku mirip sekali dengan ibuku. Dan saat itu pula aku langsung berdebar.
Tidak pernah kusangka aku akan dibuat jungkir-balik seperti ini oleh pemuda berkemeja kotak-kotak hijau yang kukenal tiga tahun yang lalu. Tidak pernah kupikirkan, bahwa aku akan jatuh cinta seperti ini. Bukan hanya sekedar suka karena ia tampan, atau sekedar mengagumi kepintaran si juara kelas, seperti yang sering aku alami sejak masih bocah berseragam putih biru.
Aku tidak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama sampai aku bertemu dengannya. Mana mungkin jatuh cinta hanya dari wajah, hanya dari penampilan? Omong kosong, tidak masuk akal. Namun, mungkin saat itu hatiku telah memberitahu otakku, memberitahu diriku bahwa pemuda berkaus hitam itu akan segera mendapatkan tempat khusus di hatiku.
Ada sesuatu dalam dirinya. Entah jari panjangnya yang lentik untuk ukuran pria. Entah matanya yang menyipit saat tertawa, namun masih bisa kulihat kilatannya. Entah suara nyaring manjanya. Entahlah. Ada sesuatu pada dirinya yang membuatku tertarik.
Aku masih sering dibuat tersenyum hanya dengan mengingat awal perkenalan kami. Saat itu, di tengah musim hujan, di sore hari, yang membuat semua anak yang berada di kantin enggan beranjak ke kelas, ia tiba-tiba menghampiriku. Dengan senyum manja khasnya, yang sampai sekarang masih sering kurindukan, ia mengulurkan tangannya.
"Hei, gua Kala, gua sering lihat elo di tokonya si Maman. Lo suka AC/DC ya? Sama dong. Gua suka bingung sekarang dikit banget anak yang suka sama rock klasik gitu, pada lebih doyan musik Top 40 yang gak jelas gitu. Eh tapi masalah selera juga sih," tanyanya merepet dengan cepat. Dan aku hanya mengangguk pelan. Dan ternyata anggukanku saat itu tidak cukup untuknya. "Nama lo siapa?" tanyanya lagi.
Ingin sekali kuluruskan pernyataan dia tadi. Aku tidak suka AC/DC, aku hanya beberapa kali ke toko itu mencari CD impor AC/DC untuk hadiah ulang tahun kakakku. Dan karena stok di toko itu habis, aku harus memesannya, dan berulang kali kesana untuk menanyakan jika pesananku sudah tiba. Aku tidak suka musik yang membuat telingaku pekak. Aku lebih suka lagu-lagu pop klasik. Namun urung kunyatakan.
"Hei, gua Rama," jawabku akhirnya. Rasanya terlalu dini kalau kuberitahukan padanya. Bukan hanya tentang preferensi musikku bahkan tentang preferensi seksualku.
Monday, January 20, 2014
Low Self-Esteem
Inget gak beberapa bulan yang lalu sempet ada seorang pria yang sangat nge-hits bernama Vicki Someshit? Lupa gua nama panjangnya, ogah juga nginget-nginget. Intinya dia ngehits banget karena pacaran sama penyanyi dangdut yang konon ternama, padahal gua sendiri aja kagak pernah denger nama doi sama sekali.
Si Vicki ini terkenal karena dia ngomong pake bahasa Inggris berantakan, kagak jelas artinya, kaya bahasa Indonesia diinggrisin. Dan video dia nyebar lewat Path, Twitter, dan walaupun gua udah jaraaaang banget buka, tapi gua yakin video-video itu ada di Facebook. Bahkan sampe ada tutorial mengartikan bahasa Inggris si Vicki ini. Beuuuh, hits tak terbendung.
It was funny, for a while. And in my case, for a while means 2-3 days. But people made a fuss about it for more than a week, or maybe almost a month. And it got me thinking and wondering, why people had this kind of euphoria to mock him. Bahasa Inggris dia jelek? Come on, palingan juga dia sekolah di daerah, kuliah di daerah, and not the good ones. Bahasa Inggris dia ancur? Ya elah, banyak orang yang sekolah dan kuliah di sekolah dan universitas ternama juga bahasa Inggrisnya ancur, gak bisa bedain noun dan adjective.
Gak usah bahasa Inggris, bahasa Indonesia aja masih banyak yang ancur. Kuliah sih boleh S2, tapi gak bisa bedain "di" sebagai imbuhan atau kata depan. Dan orang-orang yang jelas-jelas gak lebih baik dari si Vicki Someshit inilah yang heboh banget nyela dia. Come on, guys, you're just as bad as him.
Good Lord, are your self-esteem that low, so you need to degrade others to feel good about yourself?
Dan dulu jaman gua SMP sampe SMA, gua sering nonton VH1, yang ngegosipin artis, nyela artis, judge para artis. Si Barbra Streissand ternyata mukanya aneh banget tanpa make up, Kelly Clarkson ternyata mukanya tembem dan kaya abis ngobat semaleman tanpa make up. Dan gua sering nonton ini karena menarik aja sih. Tapi setelah itu gua baca ada artikel, gua lupa baca dimana, dan ditulis sama siapa, intinya adalah, kita senang nonton yang begituan karena kita merasa, "Ikh artis yang segitu kecenya, ternyata kecenya palsu, permakan semua, mendingan gua, kagak kece tapi aseli, orijinal,".
We ARE that pathetic.
Atau ada yang follow Farhat Abbas di Twitter, terus nyela, bilang dia dongo banget, kagak tau diri. Si Farhat komen apa, bikin statement apa, dicela, dikomenin, rusuh! Padahal udah jelas dia itu caper banget, dia tau semakin dongo komennya, semakin rame orang ngomongin dia. Orang kaya dia ngapain dikasih panggung? Cuekin aja. Nanti juga diem sendiri kalo kagak ditanggepin.
Atau, pasti ada deh, di kumpulan temen kita yang sukanya nyela nyinyir. The one who always make a negative comment about us, but not in a supportive way. Beneran nyinyir. I have some, and I don't even wanna consider them as my friend, just a colleague. Mereka selalu komenin orang lain, nyela abis-abisan, seolah diri mereka yang paling bener. Padahal mah kagak ada bener-benernya. Gak lebih baik juga dari orang lain. And if you have that kind of colleague, just ignore. Makin ditanggepin, makin kesenangan orangnya.
Dan kalo ada yang baca tulisan gua ini, dan merasa tertampar karena ngerasa sebagai orang yang self-esteemnya rendah, daripada ngurusin orang, mending urusin hidup lo aja sendiri, sama urusin aja sana keluarga lo yang metal-metal.
Sekian dan namastelah.
Monday, November 18, 2013
The importance of Health
Harta yang paling berharga itu kesehatan. Iye tau, kata-kata gua sangat sangat bosenin, basi. But it's true. Dan gua sangat-sangat-sangat menghargai itu sekarang. Untungnya sih gua udah cukup menghargai sebelum sakit payah. Dulu gua, selayaknya abege kebanyakan, tujuan hidupnya adalah pengen kurusan. Karena mindset kita, kurus kaya Kate Moss itu seksi. Padahal kalo ditanya ke beberapa cowok, mereka lebih milih Kate Winslet daripada Kate Moss. Makasih yah kepada kalian semua yang udah propaganda dan cuci otak para remaja. There must be special place for you in hell, guys.
Gua punya sodara, deket, banget. Jarang ketemu sih, tapi sekalinya ketemu bisa ngobrol ngalor-ngidul, curhat abis-abisan. Dan dia meninggal di usia yang sangat muda, 26 tahun. Dia lebih muda dari gua, men. Penyebabnya adalah kanker paru-paru, and yes, he's a smoker. Padahal gua selalu merasa, kematian itu jauh banget dari dunia gua. I'm young. I should be fun and free. His death breaks my heart into pieces. Diputusin cowok, diselingkuhin, dijadiin selingkuhan dsb, semua digabung juga gak bisa ngalahin sedihnya gua kehilangan sodara gua ini. Njrit, he's more like a brother to me. He's more than a brother.
Dan kemudian, ada temen deket, yang seumuran juga sama gua. Diduga kena kanker otak. Dulu pas masih sekantor, diagnosanya adalah kanker otak, gak tau sekarang, setelah dia resign, dan sekarang setelah vakum kerja, dan pindah ke tempat kerja lain, gua gak tau lagi tentang berita terkini kesehatan dia. Gua juga gak enak mau nanya. Dia yang tadinya badannya agak mirip sama gua, kurusan dikit sih, akhirnya jadi kurus parah. Apakah dia seneng? Nggak. Dia pengen sehat lagi, pengen punya pipi lagi. Dan beberapa kejadian itu bikin gua makin gak terlalu memperdulikan berat badan gua, makin bikin gua ngerasa enjoy sama badan gua. Walaupun kadang suka bete, pengen pake baju keliatan kaya lontong. But overall, gua nyaman. And also, I have a man who love me wholeheartedly, unconditionally, take me as I am. So, what the heck.
Dan kemaren, bokap gua dioperasi karena kantung empedunya tinggal batu dan nanah doang. Dan setelah operasi, dia harus masuk ke Intermediate Medical Center because of his advanced age. He needs to be observed carefully. Dan di ruangan itu dia gak cuma sendirian, ada sekitar 4-5 orang lain. Dan di pojok ruangan, ada seorang anak laki-laki, masih SD, dan dia udah mengalami gagal ginjal. Bukan karena dia keseringan minum coca-cola dan teh botol, jarang olahraga dsb, tapi karena faktor genetik. Dan dia harus cuci darah, setiap hari. And it hurts. Dan dia selalu teriak-teriak, "Mamaaaaa, udaaaaah, gak tahaaaaaaaaan," setiap lagi cuci darah. Njrit. Bayangin, anak kecil cuci darah, di saat anak kecil lain pada main bola di lapangan tengah sekolah.
Dan kita yang dikasih badan normal, dan sehat, gak ngehargain kesehatan. Serius, gua sih kesel yah. A little work out won't hurt you. A little well-balance diet won't hurt you either. So what's your excuse? Jaga kesehatan dibilang bullcrap? Your ignorance is a bullcrap here, young mister. Saat ini gua makin hati-hati dalam makan. Karena gua gak suka sayur, beneran gak suka, sangat sangat gak suka, gua ganti dengan buah dan air putih. Gua jarang banget minum air berwarna, hampir gak pernah. Buah yang tadinya cuma seporsi dalam sehari, gua bikin jadi dua-tiga porsi. Kurangin kopi di pagi hari (yang biasanya gua minum setiap hari, jadi gua minum pas wiken doang, eh kadang wikdeys juga sih, kalo lagi pengen banget), kurangin cemilan gak mutu yang biasanya gua makan hampir setiap hari jadi cuma wiken). Gua usahakan olahraga minimal dua kali seminggu, dan mulai ikut yoga seminggu sekali.
Yah intinya, selama lo masih dikasih kesehatan dan lo gak bersyukur, lo ngehe sih. Bersyukur tuh bukan cuma dzikir, dan bilang alhamdulillah doang, cuma bilang makasih doang ke Tuhan. Bersyukur tuh dengan lo juga berusaha ngejaga, nyet.
Friday, November 1, 2013
Upah Minimum
Dari kemaren di Twitter banyak banget yang ngomongin masalah buruh. Ada yang lebaynya amit-amit banget belain buruh. Iye, belain buruh cuma pas lagi demo gini, elo sendiri bayar pembantu di rumah lo berapa nyet? Nyampe sejuta juga kagak kan? Kasih dia libur pas sabtu minggu kagak? Kagak juga kan? Ngehek. Sekali lagi ye, ngehek. Kiss ass koq ke buruh, mending kiss ass ke Hugh Laurie cuy.
Harusnya sih yang jadi Sherlock Holmes dia aja, jangan RDJ. Tapi yah gara-gara Susan juga sih. Bisaan banget tuh orang aji mumpungnya.
Gua dulu pernah baca di blog orang, gua lupa blognya apa, gua coba cari di gugel juga kagak ada. Sayang banget, padahal tulisan dia tentang upah minimum tuh bagus, dan sangat mudah dimengerti. Intinya gini, kalo upah tenaga kerja di Indonesia ketinggian, para investor asing bakalan mikir ribuan kali buat buka usaha disini. Ya kali deh, lulusan SMP dan SMA minta gaji 2 juta. Cuy, gua lulus D3, gaji gua kagak nyampe dua juta dulu. Gua pernah ngerasain gaji satu koma delapan juta. Kagak dapet uang lembur pula, padahal lumayan sering lembur. Temen gua juga lulusan MIPA UI, S1, ipk lumayan kece, gaji kagak nyampe 3 juta.
Mungkin karena keluarga gua berkecukupan, gua juga masih tinggal sama orang tua, gua gak terlalu mikirin gaji dan gak terlalu peduli gua lembur tanpa dibayar. Gua baru kesel pas gua telat gaji gua dipotong. Dan disitu gua ngerasa, brengsek amat nih perusahaan, gua lembur sampe jam 10an gak dibayar, gua telat satu jam gaji dipotong. Barulah gua mulai cari kerja di tempat baru. Dan gua juga dipindahin ke bagian administrasi sih, kerjaannya dijamin ngebosenin.
Okeh, balik ke topik. Menurut lo bakalan ada gitu pihak investor yang mau buka usaha di Indonesia, yang infrastrukturnya jelek, sumber daya manusianya juga gak kece-kece amat (kece: jujur, etos kerja baik, gak pernah telat, giat bekerja, sopan dan inisiatif), terus upah buruhnya dinaikin terus? Ya mending dia nanem modal ke negeri lain yang upah buruhnya kecil tapi infrastruktur bagus. Atau upah buruh lumayan tinggi tapi infrastruktur juga bagus sekalian. Nah Indonesia? Infrastruktur busuk, SDM busuk.
Nah kalo infrastruktur kita bagus, SDA dan SDM kita bagus, apalagi kalau untuk blue collar worker maupun white-collar murah, pasti banyak investor yang mau kesini. Nah begitu mereka invest disini, upah pasti lama-lama akan ikut naik. Kenapa? Misalnya nih perusahaan A investasi di Indonesia, bikin pabrik dll, bikin kantor dll, terus kasih gaji buat buruh paling rendah itu 1,5 juta. Terus muncul perusahaan B, ikutan investasi di Indonesia, dia (kemungkinan besar) akan memberikan standar gaji yang slightly lebih besar dari si A. Karena biasanya perusahaan asing itu sadar sih gaji buat pegawai itu bukan cost, tapi investasi. Akhirnya pelan-pelan tapi (hampir) pasti (karena gak ada yang pasti di dunia ini selain kematian, tssaaah), gaji para buruh naik. Hip hip hura kan kita semua?
Nah kalo infrastruktur kita bagus, SDA dan SDM kita bagus, apalagi kalau untuk blue collar worker maupun white-collar murah, pasti banyak investor yang mau kesini. Nah begitu mereka invest disini, upah pasti lama-lama akan ikut naik. Kenapa? Misalnya nih perusahaan A investasi di Indonesia, bikin pabrik dll, bikin kantor dll, terus kasih gaji buat buruh paling rendah itu 1,5 juta. Terus muncul perusahaan B, ikutan investasi di Indonesia, dia (kemungkinan besar) akan memberikan standar gaji yang slightly lebih besar dari si A. Karena biasanya perusahaan asing itu sadar sih gaji buat pegawai itu bukan cost, tapi investasi. Akhirnya pelan-pelan tapi (hampir) pasti (karena gak ada yang pasti di dunia ini selain kematian, tssaaah), gaji para buruh naik. Hip hip hura kan kita semua?
Nanti giliran gak ada yang mau buka usaha di Indonesia, lapangan kerja kagak ada, pada demo lagi kan lo cuy? Sebenernya sih kalo yang buruh demo-demo gitu gua biasa aja, gak kesel. Soalnya mereka kan not well-educated juga. Nah yang bikin gua mau muntah sih orang-orang yang mengenyam pendidikan tinggi, tapi pemikirannya masih cetek aje. Mending dongo tapi diem, ini udah dongo bawelnya setengah mati.
Tapi yang nyela-nyelain demo buruh juga ngehek sih. Ya elo enak, hidup lo cukup. Gaji tiga juta, masih tinggal sama orang tua. Lha mereka, gaji dua juta udah hidupin keluarga. Terus maki-maki demo buruh karena bikin macet, tapi ikutan lomba marathon jakarta kemaren yang bikin macet juga pas weekend, lari gak seberapa, buang sampah sembarangan, foto-foto di jalan, posting di instagram dan path pake hape yang cicilannya belom lunas. Dasar Kelas Menengah Ngehe. Otak ngehe, kelakuan ngehe.
Ya salah pemerintah juga sih, infrastruktur jelek, hak buruh buat kesehatan juga minim dan miris. Jadi gaji kecil ya makin ngenes aja hidup di Jakarta. Mau balik ke kampung ngangon sapi atau nyangkul di sawah, harga beras lokal malah turun. Apa-apa diimpor, padahal SDA kita banyak, SDM banyak, tapi gak diurus. Yah pemerintahnya emang ngehe sih. Presidennya galau mulu bikin lagu, curhat terselubung mulu pula, istrinya sensian amat pula di instagram. Buset dah, gini amat yak nih negara?
*padahal gak pernah nyumbang apa2 juga buat negara, tapi bawel minta ini itu* *ya udah sih, maap*
Nih gua kasih foto Hugh Laurie aja biar pada adem baca postingan gua yang banyak banget kata ngeheknya.
Enjus aku dong, enjuuus
Thursday, October 24, 2013
Lamaran
Proposal. Kalo di film Hollywood itu si cowok ngajak candle light dinner, terus si cowoknya down on one knee, sambil bawa cincin, terus bilang "Will you marry me?". Pokoknya romantis. Nah kalo di Indonesia, lamaran itu berarti ngelamar ke keluarga. Bawa seserahan, bawa baju, kain, kue, dll. Malah ada temen gua yang orang Flores, seserahannya pake kuda. Dia bilang "Kakek nenek gua di Flores itu kemana-mana masih naik kuda, Ras,"
Nah terus Ditsu ngelamar gimana Ras? Begitu doang, ngajak kawin, terus ngasih cincin dari tisu digulung-gulung. Krik. Akhirnya gua minta lamar ulang. Dan dia lakukan pas kita berdua ke Bandung, pas gua nganter dia sidang S2nya. Kita malemnya makan di Maja House, ada bintang, dikit sih, tapi lebih banyak daripada di Jakarta, terus dia lamar ulang. Dan beberapa bulan kemudian, mendadak dia ajak ke PEPeNERO. Dan gua mikir koq tumben-tumbenan.
Dan gua tolak pas dia ajakin ke sana. Karena gua lagi kucel, eh gak kucel banget sih. Cuma lagi pake terusan batik putih pendek, dan wedges crocs warna krem yang udah dekil pula, gua lagi gak ngerasa kece. Dan akhirnya gua ajakin ke Fish n Co Pacific Place. Dan ternyata pas lagi makan, baru dia ngelamar lagi, sampe pakein cincin emas putih di jari gua. Mas, jangan dilamar lagi yah, deg-degan berat inih. Gak kuat inih.
Dan akhirnya dari lamaran perorangan, mulailah lamaran ke keluarga. Yang akan diadakan pada bulan Februari depan. Kenapa Februari? Karena abang gua lagi pulang ke Indo. Gua mau pas gua lamaran itu ya ada dia. Dan gimanakah lamaran di Jawa itu? Ribet, upacaranya banyak banget. Jadi supaya lebih praktis, diputuskan untuk diperingkas, dibikin lebih sederhana, yaitu cukup dia membawa keluarga besarnya ke rumah gua. Terus dia bawa seserahan, dan kemudian gua bales dengan angsulan (eh bener kan ye namanya angsulan?).
Seserahan itu sendiri isinya barang-barang kebutuhan gua. Mulai dari peralatan mandi (lotion, sabun, shampoo dll, dibeli di Marks and Spencers dan juga Body Shop), sepatu pesta dan sepatu kerja (dua-duanya Pedro), Clutch dan tas (Charles & Keith dan Aldo), sampe ke undies serta lingerie (niatnya mau cari La Senza, supaya lucu dan menggoda *apeu), kain songket Lampung, bahan kebaya (belom beli, belom sempet nyari), peralatan shalat dan Quran (Quran udah, mukena belom, nyokapnya yang mau cariin katanya), dll.
Terus kalo angsulan itu apa Ras? Angsulan tuh kaya balasan seserahan dari wanita ke pria. Biasanya sih makanan. Nyokap gua bilang mau kasih rendang buatan kakaknya yang enak banget itu, terus kue kering (udah ngincer beli di gedung Energy, enak, tapi mahal. Mahalnya di tempat doang sih kayanya, karena pake stoples lucu dari kaca. Buat nambah-nambahin, kasih kue kering beli di Kemcik yang si Ditsu suka juga), lapis legit (kepikiran beli di Harvest), puding dll. Nyokap gua usulin kasih kue apem. Gua bingung asli, koq dia kepikiran apem ye? Gua kalo denger kata kue apem, otak gua langsung ke si Kasino "Apemnya tante enak,".
Dan dari lamaran aja udah dimulai perseteruan gua dan nyokap gua. *garuk2 tembok.
Contoh kasus adalah sbb (iye, sampe gua nomerin, saking banyaknya):
1. Waktu pelaksanaan. Nyokap gua maunya oktober taun ini, pas si Ditsu wisuda. Jadi kan bokap nyokapnya ke Bandung, berarti ke Jakarta dulu. Jadi bisa sekalian lamaran. Gua kagak mau, karena gua mau ada abang gua, yang berarti Februari taun depan. Lagipula, Oktober taun ini kecepetan, tapi nyokap gua insist, dan gua insist. Berantem. Tapi akhirnya diputuskan pas abang gua pulang, karena pokoknya gua mau pas ada abang gua.
2. Tukeran cincin apa kagak. Nyokap gua mau pake acara tuker cincin segala, gua sih kagak. Karena gua pikir, toh si Ditsu udah kasih gua cincin emas putih, dan kalo pake cincin lagi, sayang amat cincin banyak-banyak, dan gua kan bukan emak-emak arisan yang cincinnya berentetan di hampir tiap jari. Mending nanti aja pas akad nikah. Ini dibahas sampe berhari-hari. Dan akhirnya diputuskan, dia kasih perhiasan aja buat peningset, alias pengikat. Eh iya bener kan yah istilahnya itu? Walaupun gua masih agak gak ikhlas, karena bakalan jarang gua pake, tapi kata si Ditsu "Udah gpp, buat kamu pake kalo nanti kondangan,". Okeh.
3. Tamu buat lamaran. Gua mikirnya, temen deket (yah kalo ada yang mau dateng juga sih, temen gua dikit pula, apalagi temen deket. Masih sedikitan pahala gua sih), dan sepupu-sepupu gua, serta keponakan-keponakan gua (yang seumuran sama gua itu) bisa dateng. And I want them to be there actually. Dan nyokap gua bilang bolehnya yang dituakan dan sesepuh aja. Dan gua udah bilang, jaman sekarang, temen dan keluarga deket tuh dateng, beda sama jaman doi. Dan tetep sampe sekarang masih adu argumen.
Tiga di atas baru sebagian dari perseteruan gua dan nyokap gua. Dan nyokap gua itu asli, kagak bisa ditentang banget maunya apa. Udah gitu, she knows nothing, karena yah ini kan baru pertama kalinya dia mantuin, nah gua, gua sih know nothing juga, tapi kan gua rajin banget baca forum di Female Daily, dan gua juga nanya-nanya ke temen gua yang udah pada kawin. Jadi at least, gua tau kebiasaan umum orang gimana.
Dan kemudian, balada selanjutnya adalah kebaya lamaran. Kebaya lamaran kan berarti harus simpel, dan gua emang maunya simpel. Simpel tapi manis gitu, kaya mukanya si Hugh Laurie. Anyway, gua sempet gugling kebaya lamaran, dan pas gua buka, satu jenis semua. Kebaya lengan pendek atau setengah lengan, dengan semacam "obi" atau ikat pinggang dari kaen yang warnanya lebih tua dari warna kebaya. Koq kayanya basi bener yah. It was so last two years (songong). But I cannot picture something better though.
Yah udahlah, pikirin nanti aja buat model kebaya lamaran. Kurusin badan dulu aje, biar gua gak kaya buntelan daging berlapis kebaya. Mana nyokap gua beliin bahan kebayanya warna hejo, duh makin kaya lontong gua. Apa arem-arem?
Anyway, buat foto acara lamaran, karena foto buat kawinan udah mahalnya keterlaluan (hampir 26jutaan pake Le Sae, belom DP sih, tapi hampir pasti pake mereka. Karena marketingnya ramah dan sangat mengejar gua. Duh I have soft spot buat marketing yang menyenangkan sih), akhirnya kepikiran pake jasa foto temennya temen gua. Yang semoga, gak mahal-mahal amat. Yang kalo bisa dibawah lima juta. Gua belom pernah ketemu sama dia, dan belom pernah liat portfolionya sih, tapi kata ceweknya si miki "Ih Ras ganteng deh, berkarakter,". Pfft. Dan si miki sendiri bilang "Yah menurut gua bagus sih, lo taulah taste gua gimana," dan makin pfft.
Udah ah, pusing. Baru mau lamaran udah pusing. Belom akadnya. Belom resepsinya. Pengen langsung loncat ke bulan madu aja bawaannya.
Dan dari lamaran aja udah dimulai perseteruan gua dan nyokap gua. *garuk2 tembok.
Contoh kasus adalah sbb (iye, sampe gua nomerin, saking banyaknya):
1. Waktu pelaksanaan. Nyokap gua maunya oktober taun ini, pas si Ditsu wisuda. Jadi kan bokap nyokapnya ke Bandung, berarti ke Jakarta dulu. Jadi bisa sekalian lamaran. Gua kagak mau, karena gua mau ada abang gua, yang berarti Februari taun depan. Lagipula, Oktober taun ini kecepetan, tapi nyokap gua insist, dan gua insist. Berantem. Tapi akhirnya diputuskan pas abang gua pulang, karena pokoknya gua mau pas ada abang gua.
2. Tukeran cincin apa kagak. Nyokap gua mau pake acara tuker cincin segala, gua sih kagak. Karena gua pikir, toh si Ditsu udah kasih gua cincin emas putih, dan kalo pake cincin lagi, sayang amat cincin banyak-banyak, dan gua kan bukan emak-emak arisan yang cincinnya berentetan di hampir tiap jari. Mending nanti aja pas akad nikah. Ini dibahas sampe berhari-hari. Dan akhirnya diputuskan, dia kasih perhiasan aja buat peningset, alias pengikat. Eh iya bener kan yah istilahnya itu? Walaupun gua masih agak gak ikhlas, karena bakalan jarang gua pake, tapi kata si Ditsu "Udah gpp, buat kamu pake kalo nanti kondangan,". Okeh.
3. Tamu buat lamaran. Gua mikirnya, temen deket (yah kalo ada yang mau dateng juga sih, temen gua dikit pula, apalagi temen deket. Masih sedikitan pahala gua sih), dan sepupu-sepupu gua, serta keponakan-keponakan gua (yang seumuran sama gua itu) bisa dateng. And I want them to be there actually. Dan nyokap gua bilang bolehnya yang dituakan dan sesepuh aja. Dan gua udah bilang, jaman sekarang, temen dan keluarga deket tuh dateng, beda sama jaman doi. Dan tetep sampe sekarang masih adu argumen.
Tiga di atas baru sebagian dari perseteruan gua dan nyokap gua. Dan nyokap gua itu asli, kagak bisa ditentang banget maunya apa. Udah gitu, she knows nothing, karena yah ini kan baru pertama kalinya dia mantuin, nah gua, gua sih know nothing juga, tapi kan gua rajin banget baca forum di Female Daily, dan gua juga nanya-nanya ke temen gua yang udah pada kawin. Jadi at least, gua tau kebiasaan umum orang gimana.
Dan kemudian, balada selanjutnya adalah kebaya lamaran. Kebaya lamaran kan berarti harus simpel, dan gua emang maunya simpel. Simpel tapi manis gitu, kaya mukanya si Hugh Laurie. Anyway, gua sempet gugling kebaya lamaran, dan pas gua buka, satu jenis semua. Kebaya lengan pendek atau setengah lengan, dengan semacam "obi" atau ikat pinggang dari kaen yang warnanya lebih tua dari warna kebaya. Koq kayanya basi bener yah. It was so last two years (songong). But I cannot picture something better though.
Yah udahlah, pikirin nanti aja buat model kebaya lamaran. Kurusin badan dulu aje, biar gua gak kaya buntelan daging berlapis kebaya. Mana nyokap gua beliin bahan kebayanya warna hejo, duh makin kaya lontong gua. Apa arem-arem?
Anyway, buat foto acara lamaran, karena foto buat kawinan udah mahalnya keterlaluan (hampir 26jutaan pake Le Sae, belom DP sih, tapi hampir pasti pake mereka. Karena marketingnya ramah dan sangat mengejar gua. Duh I have soft spot buat marketing yang menyenangkan sih), akhirnya kepikiran pake jasa foto temennya temen gua. Yang semoga, gak mahal-mahal amat. Yang kalo bisa dibawah lima juta. Gua belom pernah ketemu sama dia, dan belom pernah liat portfolionya sih, tapi kata ceweknya si miki "Ih Ras ganteng deh, berkarakter,". Pfft. Dan si miki sendiri bilang "Yah menurut gua bagus sih, lo taulah taste gua gimana," dan makin pfft.
Udah ah, pusing. Baru mau lamaran udah pusing. Belom akadnya. Belom resepsinya. Pengen langsung loncat ke bulan madu aja bawaannya.
Label:
lamaran,
wedding,
wedding preparation
Subscribe to:
Posts (Atom)


