Saturday, September 11, 2010

karma police...

Nope, I won't talk about Radiohead's song. Cuma mau nulis aja tentang hukum karma. Banyak teman saya yang percaya sekali sama hukum karma, padahal mereka bukan penganut suatu agama yang memang mempercayai hukum karma dan reinkarnasi. Agama mereka sama seperti saya, mereka muslim. Tapi percaya karma? Tolol gak sih menurut kalian?

Saya sama sekali gak percaya dengan hukum karma. Saya hanya percaya apapun yang terjadi di dunia ini sudah digariskan. Dan walaupun iman saya lebih tipis dibanding para muslim2 yang berkerudung, dengan selalu menunaikan sholat lebih rajin dari saya, puasa senin kamis, saya tidak pernah percaya dengan hukum karma (gak tau kenapa, kebanyakan para cewek yang percaya karma)

Hmm, logikanya gini yah... Inget dengan buku yang fenomenal banget jaman dulu yang berjudul a child called it? Tentang anak kecil yang disiksa abis2an oleh ibunya? Nah kalau gitu dia pernah melakukan sesuatu sehingga dia pantas mendapatkan siksaan itu dong? Dan emang ada ya dosa yang cukup berat yang bisa diperbuat anak kecil sehingga dia pantas mendapatkan siksaan seperti itu?

See the point?

Saya bingung dengan orang2 yang setelah tersakiti mengatakan "Liatin aja tuh orang udah nyakitin gw, kena karma nanti dia"

What the heck? Otak lo dimana? Muslim tapi percaya karma? Pindah agama aja sana sekalian! kalau yang percaya karma adalah orang2 yang memang beragama yang mengajarkan karma, saya tidak akan protes. Lha ini, islam, ngaku percaya sama Allah SWT, tapi percaya karma? Kontradiktip, dan tolol.

Pembalasan hanya akan ada pada saat sakratul maut, dalam kubur dan saat di akhirat nanti. Saat hidup mah mana ada karma. Kalau orang yang menyakiti kita diberikan suatu kegagalan, ya emang dia sedang diuji oleh Tuhan, itu aja.

Koq kalian kepedean banget sih berpikir kegagalan yang ia alami adalah gara2 ia telah menyakiti kalian?

Kenapa saya sampai senafsu ini ngomongin karma? Karena sebenarnya saya muak tiap orang ngomongin sesuatu dan disangkutpautkan dengan karma. Dan tadi saat saya membaca blog salah satu teman kuliah saya, dan dia mengatakan "Gw gak percaya karma, Karma gak ada di Al Quran!", rasa jijik saya terhadap karma kembali memuncak. Saya jadi ingat betapa bencinya saya terhadap kata karma, ketika diucapkan oleh orang yang ngaku muslim...

Sialan, mood gw yang lagi bagus gara2 Hujan Bulan Juni jadi tergantikan dengan rasa marah yang udah lama banget mangkel...

Makan tuh karma, keparat!

Hujan Bulan Juni

Pas hari lebaran kemarin, saya beserta keluarga berkumpul di rumah salah satu bude saya di warung buncit, di komplek perhubungan, di rumah yang telah bertahun-tahun mereka tempati. Di rumah yang selama dua tahun berturut-turut ini menjadi tempat berkumpul kami sejak bude saya yang paling tua telah meninggalkan dunia ini. Sejak bude yang masih saja saya rindukan setengah mati pergi...

Saat para kaum tetua berkumpul di ruang depan, bercengkrama mengenai masa lalu, mengenang saat-saat masih muda dulu, atau saat masih berada dalam jaman penjajahan. Mungkin topik mengenang masa lalu adalah topik favorit mereka sepanjang masa. Mengingat kembali betapa berdayanya mereka saat itu. Melupakan kerentaan mereka, meski hanya sejenak

Dan kami, para kaum mudanya, berkumpul di halaman belakang. Saling mengejek, mencela. Menghina beberapa saudara kami saat itu yang memakai baju koko namun mengabaikan panggilan sholat Jumat.

Sayapun berkata dengan nada mencela "Baju ala sheik, tapi kagak sholat Jumat, sana buka bajunya,"

dan kemudian mereka membela diri dengan mengatakan bahwa baju itu bukan pilihan mereka, mereka hanya dipaksa memakai baju itu oleh ibunya, atau ada yang mengatakan bahwa tadi mereka sudah solat ied, tidak perlu lagi sholat Jumat.

Kemudian saudara saya mengembalikan beberapa buku yang pernah ia pinjam, entah berapa tahun yang lalu. Dan diantaranya ada buku kumpulan puisi, atau prosa atau sajak, entahlah, dari Sapardi Djoko Damono yang berjudul "Hujan Bulan Juni"

Saya yakin banyak yang mengetahui Sapardi dari sajak berikut ini:

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Aku Ingin, 1989)

Jujur saja, walaupun menurut saya puisi ini sangat sangat indah, menyayat hati, namun saya juga membencinya. Saya benci karena banyak orang yang sering mengutip puisi ini tanpa mengetahui puisi milik siapa. Bahkan pernah menjadi penggalan dialog sebuah sinetron murahan yang entah mengapa dapat mencapai rating tinggi.

Dalam buku ini, ada beberapa favorit saya. Tentu saja hujan bulan juni adalah salah satu diantaranya:



tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(hujan bulan juni, 1989)

* * * * *

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impiankupun tak dikenal algi
namun di sela-selah huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

(pada suatu hari nanti, 1991)

* * * * *

terbangnya burung
hanya bisa dijelaskan
dengan bahasa batu
bahkan cericitnya
yang rajin memanggil fajar
yang suka menyapa hujan
yang melukis sayap kupu-kupu
yang menaruh embun di daun
yang menggoda kelopak bunga
yang paham gelagat cuaca
hanya bisa disadur
ke dalam bahasa batu
yang tak berkosa kata
dan tak bernahu
lebih luas dari fajar
lebih dalam dari langit
lebih pasti dari maksna
sudah usai sebelum dimulai
dan sepenuhnya abadi
tanpa diucapkan sama sekali

(terbangnya burung, 1994)

* * * * *

dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau, dan kata
kalian tahu, pisau barulah pisau
kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata

(kami bertiga, 1982)


* * * * *

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik,
merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kau lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.

(yang fana adalah waktu, 1978)


* * * * *

waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi
matahari mengikutiku di belakang

aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri
yang memanjang di depan

aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa diantara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang

aku dan bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang harus berjalan di depan

(berjalan ke barat waktu pagi hari, 1971)

langitku, kamu...

Kamulah langit fajarku
lembayungmu menghias kelam
cintamu kau sampaikan lewat embun pada dedaunan

Kamulah langit senjaku
Sebersit warna jinggamu indah
meski warnamu menyiratkan kesedihan dan keletihan

Kamulah langit malamku
kelam dan menyebarkan kesepian
membungkus cahaya dengan kegelapan meski diterangi rembulan




langit selalu mengingatkanku padamu, kapanpun...

Saturday, August 7, 2010

homeopathy VS allopathy

Which one is better?

Well, both of them do NOT guarantee could cure the disease anyway. They're just two different methods being used.

Maybe homeopathy is best for you, but not for me. But who am I anyway asking you to choose allopathy? Cause many people against allopathy, and prefer to homeopathy.

Sometimes it's not easy to be one of a kind, eh?

Thursday, July 29, 2010

Frank Sinatra - From Both Sides Now

Bows and flows of angel hair
and ice cream castles in the air,
And feather canyons everywhere,
I've looked at clouds that way
But now they only block the sun
they rain and snow on everyone,
So many things I would have done,
but clouds got in my way.

I've looked at clouds from both sides now,
from up and down and still somehow
It's cloud's illusions I recall.
I really don't know clouds at all.

Moons and Junes and ferris wheels
the dizzy dancing way you feel,
As every fairy tale comes real,
I've looked at love that way,
But now it's just another show,
you leave 'em laughin when you go,
And if you care don't let them know,
don't give yourself away

I've looked at love from both sides now,
from give and take and still somehow
It's love's illusions I recall,
I really don't know love at all.

Tears and fears and feeling proud,
to say, "I love you" right out loud
Dreams and schemes and circus crowds,
I've looked at life that way
But now old friends are acting strange
they shake their heads, they say I've changed,
but something's lost but something's gained in living every day

I've looked at life from both sides now,
from win and lose and still somehow
It's life's illusions I recall,
I really don't know life at all

Saturday, July 17, 2010

five stages of grief

When you're in lowest point, feel the deepest grief, most people said "everything's gonna be alright", "be patient", "stop crying like a baby cause the damage been done" or some sh*t like that. Maybe... they just try to make you feel better, to strengthen you, but they don't know that in feeling grief, we must through five stages.

1. Denial

it's kind of self-defense when you face something unpleasant. You will say to your family, friends or even yourself that "this is not happening", surely there is no acceptance on this stage. You just deny the grief or loss, you may feel nothing. It could last for a moment, or longer.

Just like when you hear the news of the sudden death of your loved one. You will say "it can't be", "this is not happening, we've just met a second ago"

2. Anger

It happens when you realize that the denial can not continue. When you know that this IS happening to YOU. And in this stage, you start to try to find something to blame. And also you feel this is not fair because happen to you. Or sometimes you will blame yourself for letting this happen or take place.

You will say these words "I should bla bla bla", "I could make it not happen if only bla bla bla"
you will love the word of "if only"

3. Bargaining
You know that something will happen, but you start to bargain. You want to postpone the grief of something, you try to minimize it. You will ask God to stop anything that happen or will happen.

Just like when you know you will die, you will bargain to God "please don't let me die at least until my children graduate, or my children settle and married".

Or in love relationship "Hope him not dump me until I graduate, so I could focus on my thesis" or when you want to dump someone "I will dump him/her when I know everything's gonna be okay"

One thing that you should know, time won't wait. It still flows and there's nothing that you can do about it. Stop bargaining, just do what you gotta do

4. Depression

I guess this is the lowest point of grief. When you stop to blame everything, when you stop to deny, don't have any strength to bargain, you just want to vanish into the air. When you start to love yourself not. When you start to think "I'm so sad, there is no one that care about me, so why should I?"

This is the stage when you feel numb even the sadness and madness remains underneath. You just feel lack of hope, you hope for nothing, you just want it's over, sooner or really sooner.

5. Acceptance

This is the last stage of grief, and sometimes people can not reach this stage. They will trapped in depression stage. This is when you take the loss as reality that you can not avoid, that the loss is not the fault of someone, it just happens just like the way it's supposed to happen. This is your lifeline.

When you know that this is such a pain in the a**, but this is your lifeline. And you know that you could get through this, that you know that you could and would move forward.

Well the reason why I write it, it's because of grief that I must get through right now. I already pass the denial, anger and bargaining stage. And I don't know if I'm still in depression or already pass it and move to acceptance stage. But when I read and write the explanation of depression stage, I guess I'm still there. I feel numb, lack of hope, waiting for the gulliotine to cut my head off.

Shit, I thought I'm tough enough to pass this stage, but now, I realize that I'm still trapped in this f**king stage.


This is such a requiem in adagio
You know the melody is hurting,
but you still listen to it
even it's killing you softly


loving you is such a requiem in adagio
it's surely beautiful yet hurting
you can't take the pain and hurt
but you can't resist the beauty of its melody


Monday, July 5, 2010

this how's life supposed to be

All of the happiness you seek,
All of the joy which you pray
is closer than you think
It's just a hundred tears away

(Vonda Shepard, 100 tears away)


Bet you have heard or read this quote, "there is no rainbow without a little rain" or "Without the rain, there would be no rainbow" which could be translated that you can't have a happiness without sadness. But is it true? Is it how life's supposed to be? Couldn't we just find our happiness without get through the sadness first?

There is no rainbow without a little rain? Haha, you fool, I already capture a rainbow without a little rain! It wasn't raining (at least not yet), and actually the sun is not that dark, I just made it looks darker to dramatize this photo :-P

But actually, the sky is blue!


I captured it on the way back home, when I was in public transportation, using my BB's camera which not really good actually, but I capture it.

Well actually, you do NOT need sun and rain to make its color appears, you just need sun and MOIST. Yes moist, it could be from rain, mist or dew. Why don't we just have mist and dew to see rainbow? We don't need get through the rain to see the rainbow.

Having a rainbow without a little rain, this how's life supposed to be!