Rasa ini telah kuhadiahkan padamu
kubungkus dan kusematkan pita warna biru kesukaanmu
semoga sampai dengan selamat padamu
Rindu ini kukirimkan untukmu
kutuliskan di atas kertas merah muda
dalam amplop merah menyala
Kalau kau belum merasa menerimanya
tanyakan pada kantor pos terdekat
atau minta kirim ulang padaku
senantiasa kuberikan lagi untukmu
Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts
Monday, June 10, 2013
Wednesday, April 17, 2013
Jakartaku Untukmu
Ingin kuajak kamu keliling Jakarta
berjalan kaki di bawah lampu sorot
atau hanya di bawah deretan pohon gersang
Warna langitnya pun jarang jingga sempurna
seringnya membiru agak kelabu
mungkin karena jutaan partikel debu
Siang hari langit Jakarta terik menggigit kulit
bahkan seakan tercium aroma mentari
jangan pernah kau coba tengok langitnya di siang hari
Tapi kuingin kamu tetap mengenal kota Jakarta
bukan hanya di sekitar jalan protokol Sudirman
mari menjauh sedikit dari jalan raya
berjalan kaki di bawah lampu sorot
atau hanya di bawah deretan pohon gersang
Warna langitnya pun jarang jingga sempurna
seringnya membiru agak kelabu
mungkin karena jutaan partikel debu
Siang hari langit Jakarta terik menggigit kulit
bahkan seakan tercium aroma mentari
jangan pernah kau coba tengok langitnya di siang hari
Tapi kuingin kamu tetap mengenal kota Jakarta
bukan hanya di sekitar jalan protokol Sudirman
mari menjauh sedikit dari jalan raya
Friday, January 4, 2013
ingatan dan kenangan
Tidak kau sesalkan
namun kau ingkari
Tidak kau lupakan
hanya sedang diusahakan
Senista itukah
arti hadirku bagimu
saat itu?
Serendah itukah
diriku di matamu
saat ini?
Ya, di matamu
Mata yang dulu penuh rindu
Penuh kasih dan cinta
Dulu begitu teduh
pun sangat sendu
saat memandangku
Bagimu
aku adalah kesalahan
di masa lalu
Bagiku
kamu adalah kenangan fana
dan semu
Saya menulis kata- kata diatas beberapa bulan yang lalu. Menulisnya di ipod, mengeditnya beberapa kali. Menambahkan beberapa kata, mengurangi kata- kata tanpa makna. Sampai akhirnya selesai pada September 2012. Ya sama seperti kebanyakan penulis, setiap tulisan yang saya buat selalu terasa kurang sempurna sebanyak apapun saya mengubahnya, seberapa seringnya saya memperbaikinya. Sekarang saja masih ingin saya perbaiki, saya masih merasa kata- kata itu butuh banyak polesan.
Kenapa saya keluarkan sekarang? Yah yang pertama karena saya sudah lama tidak menulis blog lagi. Padahal tiap malam kepala saya penuh ide tentang apa yang harus saya tulis disini. Namun karena ada beberapa hal, saya urung melakukannya. Atau saya tuliskan di blog saya yang lain. Atau sama seperti ini, saya menunggu waktu yang tepat untuk mengeluarkan tulisan ini.
Seperti apa waktu yang tepat? Tidak ada rumusan pasti, tidak ada teori pasti. Hanya hati saya mengatakan bahwa sekaranglah saatnya.
Siapapun yang membaca tulisan ini, orang yang saya kenal ataupun tidak, orang yang terlibat langsung maupun tidak, saya hanya ingin kalian tahu bahwa masa lalu tidak bisa dihapus. Kenangan itu akan hilang, dalam iringan jalannya waktu. Satu persatu. Tanpa ada ampun. Walaupun ada beberapa ingatan yang mungkin mengerak dalam pikiran dan hatimu, suatu saat nanti waktu akan mengikisnya. Kenangan mungkin hilang, namun fakta bahwa sesuatu telah terjadi tidak dapat dihapuskan.
Teman dan musuh ingatan adalah waktu.
Label:
love,
love poetry,
poem,
thoughts
Thursday, July 12, 2012
semuanya itu kamu
Ayunan daun yang bergemerisik
membuat menoleh tanpa mengusik
menyamarkan bising di sekitar
meramaikan sunyi dalam senyap
Gemerisik daun itu kamu
Tetes hujan yang turun
menghapus jejak langkah itu
menghapus kerinduan yang terpendam
menghapus keraguan yang tertanam
Tetes hujan itu kamu
Semilir angin yang berhembus
menghangatkan hasrat yang telah pupus
menghampiri ruang kosongnya
menuntun langkah menuju arahnya
Semilir angin itu kamu
membuat menoleh tanpa mengusik
menyamarkan bising di sekitar
meramaikan sunyi dalam senyap
Gemerisik daun itu kamu
Tetes hujan yang turun
menghapus jejak langkah itu
menghapus kerinduan yang terpendam
menghapus keraguan yang tertanam
Tetes hujan itu kamu
Semilir angin yang berhembus
menghangatkan hasrat yang telah pupus
menghampiri ruang kosongnya
menuntun langkah menuju arahnya
Semilir angin itu kamu
Sunday, November 20, 2011
Stop the Time

I want to stop the time
I don't mind being gray
I don't mind being old
I just wanna stop the time
anytime I'm with you
I want to freeze the time
travelling at the speed of light
faster than a speed of sound
whenever I'm with you
I want to stop the time
I don't mind if I can't touch the sky
or even fall from the sky
I don't mind if the blue turn to grey
I just wanna be with you
I want to stay at the moment for ever
Just stay like this, seize all the kiss
I want to stay at the time with you
stop the time when I'm with you
Sunday, June 5, 2011
Hujan senja ini
Aku suka hujan
Aku suka dengan rintiknya
yang membasahi tanah
menghantarkan aroma bumi
yang menyenandungkan irama
Aku suka hujan
Aku suka dengan sang angin
yang mengiringi sang awan
yang menyejuki hari dengan semilirnya
bahkan ketika dingin menusuk kulit
Tapi aku tidak suka hujan senja ini
Saat kau jauh,
saat kau tak terjangkau
saat kau tak teraih
saat kau di seberang sana
Aku tak suka hujan di senja ini
Tidak hanya karena kau jauh,
tapi karena aku tahu
hatimu pun menjauh saat ini
Aku suka dengan rintiknya
yang membasahi tanah
menghantarkan aroma bumi
yang menyenandungkan irama
Aku suka hujan
Aku suka dengan sang angin
yang mengiringi sang awan
yang menyejuki hari dengan semilirnya
bahkan ketika dingin menusuk kulit
Tapi aku tidak suka hujan senja ini
Saat kau jauh,
saat kau tak terjangkau
saat kau tak teraih
saat kau di seberang sana
Aku tak suka hujan di senja ini
Tidak hanya karena kau jauh,
tapi karena aku tahu
hatimu pun menjauh saat ini
Thursday, May 5, 2011
Aku ingin
Aku ingin
hidup hanya untuk hari ini
Layaknya bunga menikmati
hangatnya musim semi
Sejenak melupakan
akan datang
dinginnya musim gugur
Aku ingin
hidup hanya untuk saat ini
Layaknya dedaunan
yang menikmati
rintik hujan
Sesaat melupakan
tajam dan dingin percikannya
Aku ingin
hidup hanya untuk detik ini
terus menggempur
menerjang serta menerabas
sekilas terlena
melupakan sakitnya terjatuh
dan terhempas
hidup hanya untuk hari ini
Layaknya bunga menikmati
hangatnya musim semi
Sejenak melupakan
akan datang
dinginnya musim gugur
Aku ingin
hidup hanya untuk saat ini
Layaknya dedaunan
yang menikmati
rintik hujan
Sesaat melupakan
tajam dan dingin percikannya
Aku ingin
hidup hanya untuk detik ini
terus menggempur
menerjang serta menerabas
sekilas terlena
melupakan sakitnya terjatuh
dan terhempas
Saturday, September 11, 2010
Hujan Bulan Juni
Pas hari lebaran kemarin, saya beserta keluarga berkumpul di rumah salah satu bude saya di warung buncit, di komplek perhubungan, di rumah yang telah bertahun-tahun mereka tempati. Di rumah yang selama dua tahun berturut-turut ini menjadi tempat berkumpul kami sejak bude saya yang paling tua telah meninggalkan dunia ini. Sejak bude yang masih saja saya rindukan setengah mati pergi...
Saat para kaum tetua berkumpul di ruang depan, bercengkrama mengenai masa lalu, mengenang saat-saat masih muda dulu, atau saat masih berada dalam jaman penjajahan. Mungkin topik mengenang masa lalu adalah topik favorit mereka sepanjang masa. Mengingat kembali betapa berdayanya mereka saat itu. Melupakan kerentaan mereka, meski hanya sejenak
Dan kami, para kaum mudanya, berkumpul di halaman belakang. Saling mengejek, mencela. Menghina beberapa saudara kami saat itu yang memakai baju koko namun mengabaikan panggilan sholat Jumat.
Sayapun berkata dengan nada mencela "Baju ala sheik, tapi kagak sholat Jumat, sana buka bajunya,"
dan kemudian mereka membela diri dengan mengatakan bahwa baju itu bukan pilihan mereka, mereka hanya dipaksa memakai baju itu oleh ibunya, atau ada yang mengatakan bahwa tadi mereka sudah solat ied, tidak perlu lagi sholat Jumat.
Kemudian saudara saya mengembalikan beberapa buku yang pernah ia pinjam, entah berapa tahun yang lalu. Dan diantaranya ada buku kumpulan puisi, atau prosa atau sajak, entahlah, dari Sapardi Djoko Damono yang berjudul "Hujan Bulan Juni"
Saya yakin banyak yang mengetahui Sapardi dari sajak berikut ini:
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Aku Ingin, 1989)
Jujur saja, walaupun menurut saya puisi ini sangat sangat indah, menyayat hati, namun saya juga membencinya. Saya benci karena banyak orang yang sering mengutip puisi ini tanpa mengetahui puisi milik siapa. Bahkan pernah menjadi penggalan dialog sebuah sinetron murahan yang entah mengapa dapat mencapai rating tinggi.
Dalam buku ini, ada beberapa favorit saya. Tentu saja hujan bulan juni adalah salah satu diantaranya:

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(hujan bulan juni, 1989)
* * * * *
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impiankupun tak dikenal algi
namun di sela-selah huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari
(pada suatu hari nanti, 1991)
* * * * *
terbangnya burung
hanya bisa dijelaskan
dengan bahasa batu
bahkan cericitnya
yang rajin memanggil fajar
yang suka menyapa hujan
yang melukis sayap kupu-kupu
yang menaruh embun di daun
yang menggoda kelopak bunga
yang paham gelagat cuaca
hanya bisa disadur
ke dalam bahasa batu
yang tak berkosa kata
dan tak bernahu
lebih luas dari fajar
lebih dalam dari langit
lebih pasti dari maksna
sudah usai sebelum dimulai
dan sepenuhnya abadi
tanpa diucapkan sama sekali
(terbangnya burung, 1994)
* * * * *
dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau, dan kata
kalian tahu, pisau barulah pisau
kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata
(kami bertiga, 1982)
* * * * *
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik,
merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kau lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.
(yang fana adalah waktu, 1978)
* * * * *
waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi
matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri
yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa diantara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang harus berjalan di depan
(berjalan ke barat waktu pagi hari, 1971)
Saat para kaum tetua berkumpul di ruang depan, bercengkrama mengenai masa lalu, mengenang saat-saat masih muda dulu, atau saat masih berada dalam jaman penjajahan. Mungkin topik mengenang masa lalu adalah topik favorit mereka sepanjang masa. Mengingat kembali betapa berdayanya mereka saat itu. Melupakan kerentaan mereka, meski hanya sejenak
Dan kami, para kaum mudanya, berkumpul di halaman belakang. Saling mengejek, mencela. Menghina beberapa saudara kami saat itu yang memakai baju koko namun mengabaikan panggilan sholat Jumat.
Sayapun berkata dengan nada mencela "Baju ala sheik, tapi kagak sholat Jumat, sana buka bajunya,"
dan kemudian mereka membela diri dengan mengatakan bahwa baju itu bukan pilihan mereka, mereka hanya dipaksa memakai baju itu oleh ibunya, atau ada yang mengatakan bahwa tadi mereka sudah solat ied, tidak perlu lagi sholat Jumat.
Kemudian saudara saya mengembalikan beberapa buku yang pernah ia pinjam, entah berapa tahun yang lalu. Dan diantaranya ada buku kumpulan puisi, atau prosa atau sajak, entahlah, dari Sapardi Djoko Damono yang berjudul "Hujan Bulan Juni"
Saya yakin banyak yang mengetahui Sapardi dari sajak berikut ini:
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Aku Ingin, 1989)
Jujur saja, walaupun menurut saya puisi ini sangat sangat indah, menyayat hati, namun saya juga membencinya. Saya benci karena banyak orang yang sering mengutip puisi ini tanpa mengetahui puisi milik siapa. Bahkan pernah menjadi penggalan dialog sebuah sinetron murahan yang entah mengapa dapat mencapai rating tinggi.
Dalam buku ini, ada beberapa favorit saya. Tentu saja hujan bulan juni adalah salah satu diantaranya:

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(hujan bulan juni, 1989)
* * * * *
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impiankupun tak dikenal algi
namun di sela-selah huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari
(pada suatu hari nanti, 1991)
* * * * *
terbangnya burung
hanya bisa dijelaskan
dengan bahasa batu
bahkan cericitnya
yang rajin memanggil fajar
yang suka menyapa hujan
yang melukis sayap kupu-kupu
yang menaruh embun di daun
yang menggoda kelopak bunga
yang paham gelagat cuaca
hanya bisa disadur
ke dalam bahasa batu
yang tak berkosa kata
dan tak bernahu
lebih luas dari fajar
lebih dalam dari langit
lebih pasti dari maksna
sudah usai sebelum dimulai
dan sepenuhnya abadi
tanpa diucapkan sama sekali
(terbangnya burung, 1994)
* * * * *
dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau, dan kata
kalian tahu, pisau barulah pisau
kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata
(kami bertiga, 1982)
* * * * *
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik,
merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kau lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.
(yang fana adalah waktu, 1978)
* * * * *
waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi
matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri
yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa diantara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang harus berjalan di depan
(berjalan ke barat waktu pagi hari, 1971)
Label:
poem,
reminiscences,
stuffs
Subscribe to:
Posts (Atom)