Tuesday, September 18, 2012

Let's Make Love, Not War

Ada yang udah nonton Innocence of Muslim? Saya sih belum. Walaupun video itu sedang sangat marak. Saya buka twitter, pada ngomongin itu. Saya buka Yahoo News, pada ngomongin itu. Belum sempat cari video itu lewat Youtube, karena kerjaan lagi numpuk banget. Pulang dari kantor aja jam setengah sembilan. Gak jadi pitnes, padahal gara2 nyemilin kastengel satu stoples sambil baca pas libur lebaran, berat saya naik dua sampai tiga kilo. Eh, koq jadi curhat.
Okay anyway, intinya saya belum nonton. Terus pas malam telponan sama sang kekasih yang sedang otbon di daerah Cisarua, dia ngebahas masalah video ini, dia udah nonton katanya. Agak tersulut api kemarahan nampaknya. Yah walaupun dia sok cool seperti biasa sih, tapi tetap saja terlihat marah.
Dan saya baca di berita sore harinya, bahwa Duta Besar AS di Libya mati terbunuh gara- gara video itu. Congrats dude, you follow their script, for showing that all Muslims are Barbarians. If I met you, I will give the standing ovation. Nice job, dude. Nice job. Well, if you are idiot enough for following their script, I assume that you are idiot enough for not noticing that I'm being sarcastic.
Buat yang udah nonton video itu, dan kemudian marah, coba baja tulisan si Saletan dulu di sini.
Asal kalian tahu, semua agama itu dihina di internet. Jangan dikira cuma Islam doang. Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi, bahkan mungkin Shinto dan agama minor lainnya. Ada yang menghina nabi kita dengan sangat parah, keep calm. Internet's people mock everybody, every religion, every race, every state. If you are defensive and do the riot, you are getting traped for letting be yourself to be stereotyped. Muslims are barbarians. They shoot the amateur video, they mock us, then idiot Muslims react, then they say "See, we are so fucking absolutely right, they are brainless, they are barbarians, they are killers, they are cancers that need to get removed"
Keep calm, dude. Prove them wrong. We are educated and class- act Muslims. We don't know if the video maker has the hidden agenda. Maybe there is a conspiration, maybe there is a scenario that will give some advantages to some people. So, please, keep calm. You watched the video in Youtube, just report it as spam.
Ada kata- kata yang bagus banget dari Saletan. Tuhan itu, siapapun Tuhanmu, terlalu besar, terlalu agung sampai bisa terganggu oleh para idiot- idiot tersebut.
Jadi inget, I dated a Catholic few years ago. We'd been dating for almost two years. Apakah kita berdua pernah berdebat agama? Nope, not at all. Dan pada saat dia bertanya apakah dia harus pindah agama, saya cuma bilang gak perlu. Agama bukan sesuatu yang bisa dirubah seenaknya seperti itu. Walaupun dia tidak terlalu rajin ke gereja, saya tahu dia mencintai Tuhannya. Dan ada sesuatu yang menyenangkan saat bersama dia, sometimes we make fun of each other's religion. Dia memberitahu saya joke tentang Islam, dan saya memberitahu dia joke tentang Katolik. Did we hurt each other? Not at all. Bahkan saat dia main ke rumah saya, dan ayah saya memberikan jokes tentang Jesus, dia bilang ke saya "Sumpah yah, papa kamu jenius!"
Dan saat teman- teman saya tahu saya menyukai video si Akhmed the Dead Terrorist, mereka agak terkejut, karena itu mengungkapkan stereotype si Comic, bahwa teroris itu muslim. Saya sakit hati? Nggak, itu wajar. Karena adanya propaganda, dan muslim idiot yang mengikuti skrip propaganda tersebut, tidak salah jika para awam menganggap seperti itu. Joke is joke. And I find the joke is hillarious.
Mungkin saya pengkhayal sejati, berharap suatu saat nanti, entah berapa tahun lagi, entah puluhan tahun lagi, entah ratusan tahun atau mungkin ribuan tahun lagi, semua orang tidak akan saling mencerca dan membenci hanya karena perbedaan agama.
"They'll keep blaming each other for having different Gods because none of them gonna blame God for making them different" kata seseorang di Twitter. Actually, you don't have to blame God, just blame all of the morons who drop the hatred.
Have a nice day, folks.

Monday, September 10, 2012

Rindu

Setelah bertemu denganmu,
aku tahu
bahwa rindu itu tidak sendu

Rindu itu indah,
selayaknya langit senja
seterang langit penuh bintang

Selama mencintaimu,
aku tahu
rindu tidak muram pun kelam
Rindu itu temerang

Terima kasih, kamu

Saturday, August 25, 2012

Yah lagi pengen meracau aja sih intinya

Kadang suka kepikiran tiba-tiba, kalau Tuhan tidak menjanjikan surga atau neraka, masihkah orang akan melakukan ibadah? Kalau Tuhan tidak menjanjikan pahala atau dosa, masihkah orang akan melakukan perbuatan baik, dan menghindari perbuatan dosa?

Muak setengah mati setiap orang ngomongin masalah dosa dan pahala sebelum melakukan sesuatu. Gak boleh nyontek, dosa. Gak boleh korupsi, dosa. Atau sebaliknya, musti shalat biar dapet pahala terus masuk surga. Jadi sujud kita semata-mata hanya agar masuk surga? Bukan untuk Allah?
Pamrih amat sih?

Dulu ada kenalan yang selalu punya agenda untuk berbagi. Agendanya bagus, saya suka. Berbagi ke sebuah panti, atau sekolah atau apapun di sudut kota, tempat yang paling terlupakan, paling tidak terlihat, namun sangat membutuhkan uluran tangan kita. Saya selalu membantu meminta dana, tanpa perlu diminta dua kali pasti saya bantu. Sampai suatu hari, ia menuliskan dalam e-mailnya tentang pahala dalam melakukan itu. Dia bilang selangkah menuju surga. Fuck. Not you again. Enough is enough.

Muak masbrooooh dengerin masalah pahala dan dosa. Masa melakukan sesuatu masih harus dijanjikan yang manis dan ditakuti dengan sesuatu yang pahit. Bedanya kita sama anak kecil apa dong?

Kalau gak rajin sikat gigi, nanti giginya bolong, terus dicabut sama dokter, itu sakit lho. Atau ayo belajar, kalau naik kelas, nanti dibeliin sepeda baru. Eh saya gak bisa naik sepeda. Dibeliin lego baru deh. Kalau kamu minum alkohol nanti dosa, masuk neraka. Menyantuni anak yatim itu ada pahalanya lho, nanti masuk surga. Masa hidup puluhan tahun tapi jalan pikiran masih mirip bocah? Malu atuh sama umur. Apalagi sama uban dan rambut halus yang mulai tumbuh di telinga, yang menunjukkan ketuaannya.

Dulu saya gak pernah shalat sampai SMA. Ya disuruh sih sama Mama, dimarahin kalau gak shalat. Dosa katanya, masuk neraka katanya. Dan kemudian berakhir saya cuma pura- pura shalat. Padahal saya lagi ngelamun mikirin yang lain. Berusaha mengingat rumus kimia buat ujian besok misalnya. Pokoknya saya tidak mau melakukan sesuatu semata- mata karena dosa dan pahala. Itu idealisme bodoh saya.

Sampai pada suatu malam di bulan Ramadhan, saya tidur di kamar kerja Bapak. Dan sembari menunggu kantuk datang menyerang, saya menyalakan radio yang mengumandangkan lagu- lagu 80an dan 90an. Dan kemudian di sela- sela ada penceramah. Sempat mau ganti ke radio lain, tapi entah kenapa saat itu saya diamkan saja. Dan si penceramah itu bilang "Anggap aja shalat itu seperti SMSin atau nelpon dia. Sama seperti kita mengirim SMS ke orang tercinta, memberitahukan kabar, atau menelpon seseorang untuk menunjukkan perhatian,"

Dan saya terdiam, dan kemudian menaikkan volume suara radio. "Coba kalau kita seharian gak SMSin pacar atau suami/istri, mereka pasti ngambek, nyariin, dan nuduh kita udah gak sayang lagi. Nah ini Tuhan, yang sudah ngasih banyak banget ke kita, masa disuruh shalat lima kali sehari aja gak mau. Padahal 24 jam diberikan kepada semua ciptaannya secara adil, tidak ada yang diberikan lebih atau kurang,"

Glek. Disitu baru merasa tertampar. Iya yah, Tuhan udah ngasih banyak. Masa shalat yang cuma lima - sepuluh menit aja gak bisa? Toh anggap aja ini salah satu cara memberitahukan rasa terima kasih. Ngasih tahu bahwa masih sayang sama Tuhan. Maki- maki Tuhan juga gak papa, bilang aja kenapa Dia ngasih cobaan berat banget, kenapa selalu diberikan kegagalan. Palingan juga Tuhan cuma senyum kecil, dan membelai kita dengan Invisible Handnya, nyuruh kita sabar.

Dan sejak itu baru saya shalat beneran, bukan lagi melakukan gerakan ritual dengan pikiran kosong atau memikirkan hal lain. Yah walaupun kadang masih gampang terdistract, dengan aroma masakan mama yang selama sepersekian detik bikin saya mikir "Ih mama goreng ayam,"

Tapi sekali lagi, Tuhan paling hanya akan tersenyum. 

Tuhan itu Maha Murah Senyum. Gak termasuk di Asmaul Husna sih, tapi saya yakin, sekarangpun Dia lagi tersenyum buat saya.

*nyengir- nyengir bajing ke Tuhan.

Friday, August 24, 2012

Green: Death of the Forest

I love animals. Not all of them, not most of them. Just some of them, the tamed ones. But I never really like insect, reptile and primate. Even people said we have many things in common with them, but still, it can't make me love them. I don't love primate. I don't find they're cute or adorable.
But I joined Greenpeace a couple months ago when they showed me about dying orang utans. When they showed me the picture of many dying orang utans, they bought me. Those pictures were tearing my heart. Fuck. Human is the most selfish creatures that God created. Sometimes I wonder why God created human at the first place. They tend to destroy anything. Wait, I'm a human too. So, okay, WE tend to destroy anything.
So when I did some blogwalking at the office, I found this link:
this link consists of an article about the impact of deforestation and exploitation of natural resources in Indonesia. My fucking country. Well, if you don't want to read the long post, please click this link, and see the animal cruelty happened in Indonesia. You can download the movie (about 45 minutes long) or see the trailer (1 minute only)
Green is the name of Orang Utans here by the way.
Fuck. Fuck. Fuck.
What's on your fucking mind, people????
Then here comes the mindfuck, when I see the list of the companies which are responsible for this deforestation, I noticed that my cousin is the member of the Board of Directors at that fucking company. Yeah dumbass, if you noticed about this and you still work there, well let hell burns you to ashes. I don't give a shit if you're gay or you're a sex terrorist, or you're an atheist, or anything you want to be. But please do not ever hurt others. Others means not only other people, but also other creatures, you smartass!
I know, we humans need to do some deforestation, need to exploitate the natural resources. I know it, I'm fully aware about this. But how could we, the creatures that has gift so-called heart, don't feel a single fucking thing when hurt others. I know that the earth is getting older, and it causes the climate change. But still most of heartless and brainless people don't give a single fuck about how to take care of this mother earth. Okay now, even NASA already landed on Mars, and tweet a single thing about anything happed there, but still.
WE ONLY HAVE ONE PLANET TO LIVE IN.
See the movie (I just found out, someone already uploaded it on Youtube), imagine that you were Green. And see how we screwed. Fucked up.

Thursday, July 12, 2012

semuanya itu kamu

Ayunan daun yang bergemerisik
membuat menoleh tanpa mengusik
menyamarkan bising di sekitar
meramaikan sunyi dalam senyap
Gemerisik daun itu kamu

Tetes hujan yang turun
menghapus jejak langkah itu
menghapus kerinduan yang terpendam
menghapus keraguan yang tertanam
Tetes hujan itu kamu

Semilir angin yang berhembus
menghangatkan hasrat yang telah pupus
menghampiri ruang kosongnya
menuntun langkah menuju arahnya
Semilir angin itu kamu

Tuesday, July 10, 2012

Jogjaaaaaaaaaaaaa

Okeh, Sabtu kemarin, tepatnya pada tanggal 7 Juli, ik ke Jogja booo... (mendadak berasa gaul pake bahasa beginian)
Pada hari Sabtu subuh buta, kebangun jam 2an, gak bisa tidur lagi, dan akhirnya jerang air buat mandi sambil leyeh2 di sofa bed depan TV. Coba setel Channel V, tapi lagu2nya Korea mulu (pestol mane pestol?). Akhirnya pasrah leyeh2 doang nunggu air panas masak. Kemudian mandi, keringin rambut pakai kipas angin yang bikin bersin. Entah karena dingin, entah karena debunya. Kemudian taxi datang jam 4 pagi, dan langsung menuju bandara.
Di bandara, nungguin pesawat sambil baca novel dari ceweknya abang gw, "Ronggeng Dukuh Paruk". Lumayan kece ternyata, bahasanya juga ngalir, jadi bacanya enak. Sesaat sebelum depart, telpon si kangmas Aditsu dulu, biar dia sempet kumpulin nyawa dan leyeh2 sebelum jemput. Naik ke pesawat, lanjutin lagi baca kisah si Srintil lagi, dan tamat.
Begitu sampai Jogja, langsung telpon si kangmas Aditsu, atau lebih baik disingkat KMA. Dan doi masih di jalan, dan hanya dalam waktu sekitar lima menit nungguin dia, gw masih sempet2nya nyasar di bandara Adisucipto. Dari sana langsung ke hotel Melia Purosani buat sarapan. Sarapan belagu2an, cuma makan toast dua lembar dengan unsalted butter, dan jam 11an perut gw udah keroncongan. Untung si KMA gak denger.
Perjalanan pertama adalah ke museum Affandi. Yes, Affandi si pelukis. Kece2 yah ternyata lukisannya. Berhubung alirannya ekspresionis impresionis, jadi gw gak perlu jadi pengamat seni dulu buat nikmatin karyanya. Beberapa diantaranya adalah ini:
Parangtritis at Night
Dan juga ini:
Two Roosters
Yang ini gw gak ngerti maksudnya apaan. Tapi strike a pose dululah.


Silau meeeen...
Dari museum Affandi, langsung menuju ke Ullen Sentalu. Dari awal ditanyain sama dia mau kemana aja selama di Jogja, dan gw langsung bilang "Ullen sentaluuuuu". Ullen sentalu itu atas usul si Dska. Karena gw gak ngerti di Jogja itu ada apaan aja, apalagi si KMA sebelumnya udah ke Jogja buat fieldtrip, pasti objek wisata yang standar udah dia jamah, akhirnya gw tanya temen gw si Dska, anak gaul seseantero kota Bekasi. Dia bilang Ullen Sentalu bagus, dan pas gw browsing2, ternyata kece.
Jadi isinya apa Ras di Ullen Sentalu? Ullen Sentalu yang terletak di Kaliurang (macem gw ngerti kaliurang itu dimana), berisi peninggalan2 para putri keraton, mulai dari keraton Jogja sampai keraton Surakarta. Ada foto2 mereka, kain2 batik yang mereka pakai, terus meja riasnya, macem2 deh. Dan dengan membayar 25ribu, kita udah dapet tour guide dan minuman khas salah satu putri keraton yang katanya bikin awet muda.
Sayangnya, di museum ini gak bisa dipoto2 euy. Padahal banyak spot yang kece buat dipoto. Boleh poto2 setelah udah keluar. Yah lumayanlah daripada gak ada kenang2an.

pada hitungan ketiga, Ditsu...

Dan di Ullen Sentalu itu ada restorannya juga. Restorannya lumayan kece, gw pilih di teras, jadi kena semilir angin kaliurang, terus diiringi dengan lagu2 bahasa Belanda, walau kadang ada lagu jadul Indonesia sih. Menunya agak2 londo, tapi errr rasanya biasa. Gak sebelanda yang ada di otak gw. Duh jadi pengen makan di Hema. Eh maap maap, jadi gak pokus. Tapi yah karena makannya sama si KMA mah, jadi gw sangat menikmati makanannya.
chicken something (lupa namanya)
tenderloin something (lupa pula namanya)
Yang bagus disini itu suasana dan momennya, mehehehehehe... Duh I can't stop smiling. *mata menerawang* *dada berdebar2*


untung makannya sama kamu, jadi momennya dapet :-P
Okeh, setelah dari Ullen Sentalu, akhirnya mampir ke Kranggan demi makan es krim. Es krim gelato sih gosipnya, tapi ternyata kyaq es krim biasa. Gw pilih dark chocolate, tapi rasa coklat biasa kyaq walls. Dan gw sengaja pilih di Kranggan walaupun sebenarnya ada cabang juga di Maliboro adalah karena, katanya yang di Kranggan desain interiornya agak2 berbau Eropa, sedangkan di Malioboro itu modern minimalis. Dan begitu sampai Kranggan, ternyata oh ternyata gak seeropa itu, masih modern minimalis buat gw. Tapi tetep, karena makannya sama si KMA, momennya dapet. Aww...
gelato ndasmu. Masih enakan es krim diamond yang choco chips
Cuma sehari doang di Jogja, jadi gak sempet kemana2 lagi. Dari Kranggan langsung ke bandara, nungguin pesawat menuju Jakarta. Dan, ehm, begitu sampai Cengkareng, sempet2nya makan kentaki dulu. Sayang bukan ayam original, tapi gpp deh, sekali2 makan yang crispy.
Btw time moves so fast, flies by when I spend it with you. Cuma sesaat, tapi berkesan banget.
Makasih yah :-D

Friday, May 25, 2012

GT-Man itu anti slip

Aloha hombre, como estas? Kinder bueno? Bueno bueno... (mulai ngaco, epek ngidam Kinder Bueno)

Udah lama gak nulis blog, ternyata oh ternyata, tampilan dashboard blogspot berubah. Sempet bingung gimana cara bikin new post, tapi yah percumalah gw dikaruniai kejeniusan tingkat tinggi kalau gak bisa. Udah sebulan lebih gak menjamah blog ini, *jamah layar komputer dengan penuh has...*, okeh abaikan. Mulai stres, kerjaan lagi banyak. Tapi sempet ngeblog.

Disuruh sama seseorang buat nulis lagi. Aloha Mr. Next, 'sup bro, nih gw nulis. Dan sesuai permintaan lo juga nih, gw bakal nulis tentang gw yang nginep di kosan temen kantor gw, si Slepi.

Okeh, pada suatu hari, Jakarta diguyur hujan deras. Dan seperti yang sudah bisa diduga, Jakarta macet parah. Bikin gw males pulang. Pengen begajulan dulu juga males, gak punya temen. Maklum sebagai kaum Forever Alone, emang suka susah kalau mau gaul mendadak (curcol). Akhirnya gw putuskan nginep di kosan Slepi di belakang GI, di daerah Kebon Kacang yang terkenal sama nasi uduknya. Kesana dengan jibaku, naik kopaja, karena busway ngantrinya parah. Turun dari kopaja, gerimis masih lumayan besar, gak ujan sih, tapi gerimis, tapi gerimis deras.

Gw jalan dengan santai, cool as cucumber. Padahal gw cuma takut kepleset aja karena lagi pake sepatu yang super licin. Slepi panik sambil jalan cepet2, gw jalan pelan2, berdoa dalam hati supaya gak kepleset. Masa dandanan super kece terus kepleset di trotoar? Mending kepleset di catwalk, masuk Detik. Terus disamperin sama anak2 kecil ojek payung. Gw cuekin aja, eh sama si Slepi diajak ngobrol, kenapa sempet2nya coba. Mending ngobrol biasa, si Slepi nanggepin celaan mereka, terus akhirnya keki sendiri. Bego.

Dan akhirnya ke indomaret buat beli sikat gigi, cemilan, aqua, dan... celana dalam. Gw bawa tas pitnes gw, ada baju ganti, ada peralatan mandi (minus sikat gigi), tapi gw lupa celana dalam cadangan pernah gw pake sebelumnya. Akhirnya gw berburu celana dalam di indomaret. Dan ternyata oh ternyata, mereka kehabisan celana dalam wanita. Dan akhirnya, diantara tumpukan celana dalam pria berwarna gelap itu, gw memilih GT-Man yang katanya anti slip. Kenapa milih itu? Karena gw penasaran dari jaman SD, apanya yang slip yah? *cengar cengir bajing ala mandra*

Setelah keluar Indomaret, baru mikir, kenapa gw gak ke GI terus beli celana dalam disana aja coba? La Senza is quite pricey, that's why.

Dan terus, sampe kosan Selpi, dia lupa bawa kunci kosan. Akhirnya dia balik lagi ke kantor, buat ambil kunci. Gw terbengkalai duduk di ruang tamu sambil kelaperan, dan pusing parah. Hampir satu jam kemudian, Slepi muncul dengan muka dongo, dan panik. Dia sempet ngira mau diculik sama tukang ojek karena ojeknya lewat jalan sepi, deket rel kereta pula, dan dia gak tau jalan.

Abis itu gantian mandi, dan turun kebawah buat bikin indomie. Belum selesai indomie gw, lampu mati. Asli. Gw ketawa ngakak banget. Menertawakan hidup gw dan Slepi yang berat banget di hari itu. Slepi? Mencak2 ketakutan sambil bilang "untung ada elo Ras, kalo nggak, gw gak tau lagi". Gw gak peduli, gw kelaperan, nyantap indomie sampai licin tandas. Kemudian lampu nyala, gw mencoba tidur, diiringi dengan cekikian riang si Slepi karena ditelpon pacar. *pasang headset denger musik, gak rela denger gombal2an Slepi ke Beridut*

Terus gimana rasanya pake celana dalam cowok? Errr, I hate to admit it, tapi enaaak. Lega, longgar di bagian bawah. Sampe sekarang gw masih gak ngerti anti slip dimananya, tapi asli, enak.