Friday, January 4, 2013

ingatan dan kenangan

Tidak kau sesalkan
namun kau ingkari

Tidak kau lupakan
hanya sedang diusahakan

Senista itukah
arti hadirku bagimu
saat itu?

Serendah itukah
diriku di matamu
saat ini?

Ya, di matamu
Mata yang dulu penuh rindu
Penuh kasih dan cinta
Dulu begitu teduh
pun sangat sendu
saat memandangku

Bagimu
aku adalah kesalahan
di masa lalu

Bagiku
kamu adalah kenangan fana
dan semu

Saya menulis kata- kata diatas beberapa bulan yang lalu. Menulisnya di ipod, mengeditnya beberapa kali. Menambahkan beberapa kata, mengurangi kata- kata tanpa makna. Sampai akhirnya selesai pada September 2012. Ya sama seperti kebanyakan penulis, setiap tulisan yang saya buat selalu terasa kurang sempurna sebanyak apapun saya mengubahnya, seberapa seringnya saya memperbaikinya. Sekarang saja masih ingin saya perbaiki, saya masih merasa kata- kata itu butuh banyak polesan. 

Kenapa saya keluarkan sekarang? Yah yang pertama karena saya sudah lama tidak menulis blog lagi. Padahal tiap malam kepala saya penuh ide tentang apa yang harus saya tulis disini. Namun karena ada beberapa hal, saya urung melakukannya. Atau saya tuliskan di blog saya yang lain. Atau sama seperti ini, saya menunggu waktu yang tepat untuk mengeluarkan tulisan ini. 

Seperti apa waktu yang tepat? Tidak ada rumusan pasti, tidak ada teori pasti. Hanya hati saya mengatakan bahwa sekaranglah saatnya. 

Siapapun yang membaca tulisan ini, orang yang saya kenal ataupun tidak, orang yang terlibat langsung maupun tidak, saya hanya ingin kalian tahu bahwa masa lalu tidak bisa dihapus. Kenangan itu akan hilang, dalam iringan jalannya waktu. Satu persatu. Tanpa ada ampun. Walaupun ada beberapa ingatan yang mungkin mengerak dalam pikiran dan hatimu, suatu saat nanti waktu akan mengikisnya. Kenangan mungkin hilang, namun fakta bahwa sesuatu telah terjadi tidak dapat dihapuskan.

Teman dan musuh ingatan adalah waktu. 

Thursday, January 3, 2013

Decision making

I'm pretty terrible at making good decision since I tend to make some awful decisions. And, I never really think about the potential risk, the consequences for any decision I make. Stupid? Well, you may think so, but actually I have different point of view. I believe God is the best script director, so I believe every step I make will take me to the right places at the right times. Well, that's what I thought.

But for almost 26 years of my life, I made many bad decisions. I wanna say I have no regret making one or two of them. That is the path that I need to walk on to be who I am right now. I wanna believe that God's favor is just like Gandalf, will never come late, nor is early. He arrives precisely when he means to. And I will find my own way.

But now, I face another crossroad. And I'm pretty terrified if I make another awful mistake. But sitting here, without doing anything won't ease anything. Just like Murakami wrote, closing my eyes wont change anything. Nothing's gonna disappear just because I cant see what's going on. In fact, things will even be worse the next time I open my eyes. That's the kind of world we live in. Keep your eyes open since only a coward closes his eyes. Closing my eyes and plugging up my ears won't make time stand still.


 No regrets they don't work
No regrets they only hurt
(Robbie Williams, No Regrets) 


I turn my head to the East
I don't see nobody by my side
I turn my head to the West
Still nobody in sight
So I turn my head to the North
Swallow that pill that they call pride
That old me is dead and gone
But that new me will be alright
(T. I., Dead And Gone)

Wednesday, October 31, 2012

T. I. - Get Back Up (Feat. Chris Brown)


This is the song that made me wanna buy the album. Listened to this song over and over again. Ah T.I., you are one of the reasons why I still love rap music. You are the King of South, and no one will take that crown from you for sure.

And when they push you down, you got to get back up
(I'm only human dawg)
And when they push you down, you got to get back up
(I'm just a human dawg)

Brush the dirt off your jersey then go for the cup
Or the trophy or the ring, champion no matter what
Cause when you got the belt and the ring
People with ya popping bottles, taking pictures look around
As soon as you fall down all the haters pass a judgement
Surprise, I’m here to show that I’ma rise above this

Monday, October 29, 2012

Ranah Minang

Sebagai blasteran Jawa - Padang, selama ini suka agak segan tiap ditanya asalnya darimana. Karena kalau saya bilang campuran jawa padang, pasti pada nanya terakhir ke Padang kapan, terakhir ke Jawa kapan. Jawa, lebih tepatnya Magelang sih dulu sering, hampir tiap lebaran mudik kesana. Yah setidaknya pernah ke alun- alun tempat para pemuda pemudi Magelang kongkow tiap malam, makan bakso enak di PLN, martabak manis di depan Hero. Tapi Padang? Belum pernah kesana masbroooh. Cuma si abang aja yang pernah tinggal disana sampai sekitar umur tiga atau empat tahun.
Dan mendadak, tanpa rencana matang, tanpa persiapan, saya langsung pengen ke Padang. Pesan tiket, dan bilang sama sang kekasih dan juga mama "Laras mau ke Padang!" dan mereka cuma mengernyitkan dahi pertanda heran (kalau bagian pacar sih cuma bayangan aja, lha wong saya kasih taunya lewat watsap).
Akhirnya browsing cari tiket yang lumayan murah, yaitu Lion Air. Pulang pergi satu koma dua jutaan. Gak usah bawa banyak barang, bawa tas gembok (buat yang gak tau tas gembok itu apa, bahasa kecenya ransel), dan satu tas kecil buat dompet, hape dll. Apalagi konon katanya si penerbangan ini suka seenaknya lempar2 barang bagasi.
Berangkat sekitar jam 6, sampai di bandara jam 3an, gara2 si om supir taxi bilang "Saya mah udah biasa bawa orang ke bandara pas mepet2, jadi 45 menit juga nyampe. Bisa noh lewat belakang". Gak ngerti maksud dia lewat belakang itu lewat mana, lagi gak buru2 juga. Dan begitu sampai bandara, nyamperin Mama dulu yang juga lagi mau pergi ke Bangka. Gaulnya koq maksimalan doski yeh? Heran.
Dan begitu sampai kota Padang, disambut sama Bapak yang bawain martabak Kubang. Asli, martabak Kubang di Padang enaknya setengah mati. Beda sama martabak Kubang di Jakarta. Dagingnya banyak, sayurnya dikit, ditambah dengan kuah apapun itu dan irisan cabe ijo dan bawang bombay. Foodgasm! Tissue mana tissue? (*lap iler)
Kemudian cari makan malam di RM Lamun Ombak dekat bandara. Kalau gak salah ada dua atau tiga Lamun Ombak di Padang, tapi katanya yang paling kece sih yang dekat dengan Bandara ini. Enak Ras? Bukan enak lagi, enak parah! Keterlaluan enaknya. Cabe ijonya pedes, gak basa basi macem di Jakarta. Gak ada pedes2nya. Ini pedesnya mantep. Ayam popnya sih masih enakan buatan Mama, tapi tetep aja enak parah.
Dan dalam perjalanan menuju penginapan, Bapak mau cari buah dulu. Dan saya sebagai Duta Pisang, langsung minta pisang. Dan asli, pisang di Padang jauh lebih enak daripada pisang di Jakarta. Lebih besar dan lebih manis. Okay I know it sounds so wrong, tapi beneran pisangnya lebih besar dan lebih enak. Gokil, sekedar pisang aja enaknya pol gini. Beda emang pisang mateng puun dan pisang mateng karbitan.
Dan kemudian nginep di wisma di kota Padang. Lupa namanya apa, pokoknya itu adalah wisma punya temennya Bapak. Lumayan kece koq, ada AC yang lumayan dingin, WiFi, water heater, tipi (yang gak bakalan ditonton juga sih), dan roti buat sarapan. Disana cuma menginap semalam, dan kemudian pagi- pagi berangkat ke Bukittinggi dan Danau Maninjau. Woohoo...
Lewatin Pariaman (akhirnya melewati Pariaman, suku terhoror. Bukan horor sih, tapi udah jadi buah bibir, jangan mau kawin sama orang Padang Pariaman karena mereka rese. Dan kemudian makan di RM Aie Badarun. Ini lebih jawara daripada Lamun Ombak. Lambuk Ombak aja udah bisa bikin saya menggelinjang. Okay, now that sounds so wrong, again. Masih mengambil menu yang sama dengan saat di RM Lamun Ombak, tapi ini lebih mantep. Ya bumbunya, ya cabainya. Mamaaaa, aku mau tinggal di Padang aja boleh? Sempet kepikiran cari suami orang Padang biar bisa tinggal di sana.
Mendadak Kolestrol Meningkat
Dari sana kemudian berangkat menuju Bukittinggi, dan kemudian di tengah jalan Bapak minta berhenti. Katanya mau dengerin suara sungai dulu. Dan katanya buat orang kota besar musti dengerin suara beginian kadang- kadang demi ketentraman jiwa.
Suaranya emang kece, bikin pengen tidur.
Dan kemudian dari sana berhenti di air terjun, errr lupa apa nama air terjunnya. Air terjunnya kecil, rame pula. Tapi tetep aja enak buat diliat. Dan buat poto2 juga. (maap, saya gak cocok nulis blog tentang traveling)
ini jadi objek wisata koq, tapi maap sayah lupa namanya.
Dari sana ke Ngarai Sianok, melihat singkapan. Gak deng, macem Bapak gua heolohis. Ini murni nyasar, dan nanya jalan kemudian balik arah. Sebelumnya poto2 lagi.


Dari sana lanjut perjalanan menuju ke salah satu objek wisata di Bukittinggi, namanya "Objek Wisata Taman Panorama Lobang Jepang". Jadi disana ada tamannya, yang penuh sama monyet. Dan berhubung agak trauma sama monyet di Bali yang usil2, suka ngambil barang orang, saya langsung masukin dompet dan ipod ke dalam tas. Dan kemudian menggenggam iphone erat- erat. Selain itu ada Goa Jepangnya juga, sayang gak nyoba masuk, takut kelamaan disana karena buru- buru mau ke Danau Maninjau. Takut keburu malam.
Monyet dan kucing rebutan makanan.
muke lu songong bener dah.
Dari Bukittinggi menuju Danau Maninjau yang melewati Kelok 44, banyak monyet pula. Ternyata oh ternyata, kalau kita sekali ngasih makanan ke mereka, bakal dikejar. Gak masalah sih dikejarnya, tapi saya takutnya mereka ketabrak nantinya. Dan berakhir makanin kacang buat jatah monyet. Dan begitu sampai danau Maninjau, sayang banget udah sekitar jam 5 sore, jadi kabut mulai turun, dan gak bisa terlalu keliatan danaunya. Tapi kece koq. Kebayang kalau kesana di pagi atau siang hari, pemandangannya pasti kece berat. Dan karena berkabut, gak bisa ambil poto pula.
Niat awal mau menginap di sekitar danau Maninjau gak jadi. Karena gak ada penginapan yang cukup oke. Mungkin karena orang juga lebih milih nginep di Bukittinggi, terus paginya baru ke danau Maninjau kali yah, jadi agak riskan kalau mau buka hotel bintang disini. Jangankan hotel bintang, hotel melati aja gak ada koq. Adanya wisma, dan rumah penduduk.
Dari Maninjau akhirnya Bapak mencari sungai Tanang. Karena katanya sebelum mati mau tahu dulu sungai Tanang yang ada di lirik lagu Anak Salido itu dimana. Dan akhirnya ketemu. Dan itu bukan sungai, itu empang braaaay. Empang yang dibuat oleh penduduk sekitar untuk masjid. Jadi tiap tahun atau dua tahun sekali akan ada pemancingan di empang tersebut, dan hasilnya untuk sumbangan masjid. Ini orang Jakarta gak ada yang mau niru yah? Biar bangun mesjid gak usah minta- minta ala pengemis. Malu- maluin agama sendiri aja. (mendadak emosi). Dan disini ikannya banyak, bisa beli makanan ikan, terus kasih ke ikan- ikan tersebut.
konon katanya ada ikan koinya juga
Dari sungai Tanang akhirnya selesailah sudah perjalanan hari kedua, dan menuju ke hotel Grand Inna di kota Padang.  Hotel baru dan masih bertarif 550ribuan. Hotelnya lumayan koq, tapi belum ada kolam renang. Dammit, padahal niatnya mau renang dulu buat bakar kalori. Tapi konon katanya mau dibikin mini water park nantinya.
Hari ketiga, hari terakhir. Niatnya jalan- jalan ngiterin kota Padang sambil cari oleh- oleh. Oh iya, kalau cari oleh- oleh mending beli Rohana Kudus, di jalan Rohana Kudus, dekat Pizza Hut. Kenapa? Karena lebih pedes man kripiknya. Atau sementok- mentoknya Shirley deh. Tapi Rohana Kudus pedesnya lebih nendang sih.
Dan akhirnya di tengah hari bolong, sebelum makan siang, Bapak ngajakin ke Taplau, alias Tapi Lauik alias Tepi Laut. Kata teman saya, kalau belum ke Taplau jangan ngaku sebagai anak gaul Padang. Sebenernya sih pantainya gak terlalu bagus. Lumayan kotor. Tapi enak juga duduk gak jelas di pinggir pantai sambil dengerin suara debur ombak. Mendadak teringat kenangan pahit. Mendadak mau nangis. *mengalun lagu Angel oleh Sarah McLachan.

Sine Cera, without flaw. That's how you meant to me.

Mendadak pengen belajar naik sepeda. Tampak asyik gitu yah naik sepeda beralaskan pasir pantai.
 Kemudian makan lagi di RM Lamun Ombak, dan masih super enak. Merusak standar makanan Padang. I don't think I will eat Padangnese food again in a very long time. Btw kalau mau ke Padang, musti seminggu waktunya karena tiga hari itu berasa cuma nyampah doang disini. Banyak tempat yang belum saya datangi. Batu Malin Kundang pun belum saya lihat :-(
Padang, I will be gloriously happy if I could visit you again, someday.

Monday, October 15, 2012

Favorite Perfume

Saya bukan Perfume Reviewer sih, cuma suka banget ngendus- ngendus perfume. Dan kadang saya menilai orang dari Perfumenya. Misalnya yang pake perfume Lovely-nya Sarah Jessica Parker itu murahan, pasaran, atau yang pakai Beneton itu abege banget, dan sebagainya. Belagu? Emang. Padahal gak ngerti- ngerti amat sama perfume. Ini cuma nge-list perfume yang saya pakai, dan yang paling saya suka. Versi saya dan versi pacar yang bawel nyuruh saya pakai salah satu perfume.

1. L'Occitane, Cherry Blossom
Ini enak banget buat dipakai sehari- hari. Baunya manis bunga, tapi seger dan lembut. Gak terlalu abege, gak terlalu seksi. Apalagi kalau dipakai barengan sama body lotionnya, beuh... Pake ini berasa cantik sepanjang hari. Jadi males mandi, males ambil wudhu, takut baunya ilang. (digeplak malaikat). Tapi sayangnya gak terlalu tahan lama baunya.

2. L'Occitane, Green Tea with Jasmine
Pertama kali disemprot, baunya emang rada pedes sih. Tapi setelah dipakai satu jam, dan udah kena keringet dikit (ngantri Trans Jakarta selama setengah jam misalnya), baunya jadi lumayan enak. Green Tea-nya gak terlalu manis, rada tajam, tapi somehow kece dicampur sama Jasmine. Pakai ini, selama setengah harian wangi deh. Lebih kece lotionnya daripada perfumenya. Lotionnya baunya lebih lembut.

3. Issey Miyake, L'Eau d'Issey
Ini perfume unisex. Eh apa buat cewek yah. Dan kalo abang atau bokap gue mendadak minta perfume, gue biasanya kasih ini, karena menurut gue ini baunya gak terlalu feminin. Mungkin karena campuran woody-nya itu yah. Yang bikin kece dari perfume ini adalah, sangat long lasting. Pakai jam 6 pagi sebelum berangkat kerja, jam 3 sore baunya masih kecium. Gue sendiri sih gak bisa nyium, tapi dulu temen gue ada yang suka mendadak deket- deket sambil bilang "Bau lo enak Yas,"
Kekurangan: sangat pasaran.

4. Calvin Klein, CK1
Classic. I love something classic. Ini unisex perfume paling kece sepanjang yang gue tau. Yah seperti kata- katanya The Kardashians, yang bisa buat unisex perfume paling kece itu ya Calvin Klein. Wait, don't get me wrong, gua gak suka nonton Reality Show itu yah. But I couldn't agree more. Baunya basically citrus, tapi gak terlalu menyengat. Sayang udah gak ada lagi di Indonesia, kalau mau beli ini musti nitip orang kalau mereka lagi ke Singapura misalnya.

5. Clinique, Happy for women
Kyaaaa, suka banget sama baunya. Kalau saja baunya tahan lama seharian, gua gak bakal ganti- ganti perfume mungkin yah. Sayang cuma tahan sekitar 5- 6 jam, jadi musti bawa botolnya tiap pergi. Musti semprot tiap abis makan siang. Tapi kalau cuma ke mall sebentar, ke kondangan sebentar, pas banget pakai perfume ini. Segarnya citrus dicampur sama manisnya floral itu pas banget. Gak terlalu nyantreng pula kalau dipakai pas siang hari. My perfume from high school until college.
Btw, ada yang for men juga. Baunya mirip. Temen- temen gue sih lebih suka yang for men. Tapi gue sendiri lebih suka yang for women.

6. Dolce&Gabbana, Rose the One
Ini perfume buat malam karena baunya super nyantreng. Apalagi pas pertama kali disemprot, wangi manisnya langsung nusuk hidung. Wangi floral yang manis dan sensual, dan karena kesan sensualnya itulah gak cocok dipake pas siang, musti malam. Dan salah satu rekan kerja gue ada yang komentar "baunya ngajak tidur banget".
Jangan takut dengan wangi nyantrengnya, karena setelah beberapa lama jadi manis lembut koq, dan lumayan tahan lama. Pakai pas sore, sampai besok siangnya baunya masih berbekas di gue.

7. Burberry, The Beat
Pertama kalinya beli ini gak sengaja. Jadi waktu itu ke PS, eh apa Senci yah. Lagi nyari Burberry Touch atau Baby Touch. Tapi ternyata udah gak ada lagi di Indonesia. Akhirnya si mas ngondek nyaranin The Beat ini. Dan begitu dia liat muka gue ragu, dia bilang beli refillnya. Eh bukan refill, jadi dia kasih botol kecil, dan gue beli, errr lupa harganya berapa. Cukuplah buat dua minggu sampai sebulan. Dan ternyata baunya emang enak.
Baunya campuran floral, light musk dan gak tau lagi. Pertama kali semprot baunya kurang kece sih, nyantreng banget. Tapi begitu kena keringet dan bau badan kita, baunya jadi enak. Dan sang kekasih pun nyuruh gue untuk selalu pakai perfume ini tiap ketemu dia.

8. Elizabeth Arden, Green Tea
Bukan gue yang beli sih, tapi ini punya mama. Dan dari sederetan perfume di kamarnya, perfume ini yang baunya paling normal dan bisa diterima di hidung gue. Wangi green teanya lembut, tapi juga seger. Enak buat abis mandi terus cuma sekedar pergi ke Gramedia buat cari komik sebentar. Tapi ya baunya gak tahan lama sih emang.

9. Issey Miyake, L'Eau d'Issey Florale
Gue sendiri lebih suka Rose the One-nya D&G, tapi karena itu gak cocok buat siang, maka untuk pergi siang- siang, inilah perfume favorite gue. Lebih tepatnya pergi di weekend sama sang kekasih, karena dia sangat suka bau ini. Dia bilang gue musti pake setiap hari. Tapi masalahnya botolnya gede banget, gak bisa gue bawa- bawa.
Basically baunya mirip si Issey Miyake yang satunya cuma yang ini ada sentuhan floralnya. Tapi sumpah baunya mirip banget, cuma lebih cewek. Tapi bokap kadang suka minta buat kondangan. Pas gue bilang itu buat cewek, dia cuma bilang "Ah yang penting wangi"

10. Marc Jacobs, Daisy
Gue beli ini karena iming- iming wangi floralnya. Karena gue sangat suka dengan bau floral, dibanding bau musky, woody, fruity or else. Tapi ternyata ini wanginya terlalu nyantreng dan manis buat gue. Akhirnya gue simpen perfume ini di atas meja kantor, cuma buat jaga- jaga aja kalau ada yang minta perfume. Atau pas gue lagi lupa pakai perfume, dan gue merasa gue berbau abang- abang di bis.

Errr, I realize that my review is just so amateur. Tanpa memberitahu base note, top note atau middle notenya. Karena jujur, gue gak tau. Idung gue gak secanggih itu bisa ngerti, yang gue tau cuma satu. Enak atau nggak. Udah gitu doang. I'm terribly sorry for my stupidity.

Thursday, September 27, 2012

another farewell from a good friend

Hari ini pas watsapan sama grup explovaganza, tiba2 ada yang bilang "kalau siang ini mau makan padang, dateng kesini ya cantiiiik,". Bikin saya mendadak tidak bisa menahan hasrat. Pertama, makan padang gratis, kedua dibilang cantik. Tapi kemudian, pada bilang "sekalian bawa hardis ya cantik, minta HIMYM"

Damn.

Dibilang cantik cuma karena mereka pengen minjem hardis. Tampar nih tampar.

Anyway, ternyata itu adalah farewell lunch buat salah satu teman dekat saya di kantor lama. Teman yang saya kenal selama tiga tahun lebih. Pertama kenal pada bulan Mei 2009. Saya datang ke ruangannya dan diperkenalkan oleh teman saya. Dan saya masih ingat betul perkataan dia saat itu.

Him : Berapa lama proses masuk sini?
Saya : Lupa, satu sampai dua bulanlah
Him : Jago, gw tiga bulan lebih.

Percakapan tidak penting yang entah kenapa sampai sekarang masih saya ingat. Kemudian somehow someway, entah bagaimana caranya, dan entah kenapa, saya lebih sering berinteraksi dengannya daripada yang sebaya dan satu departemen dengan saya. Walaupun saya selalu memanggil dia Old Man, dan dia selalu bangga dengan ketuaannya itu.

Inilah dia, gank in crime saya waktu itu. Dari kiri - kanan: Vickry, Ratih, Yondo, Argha, Saya dan Mancrut.

Si terdakwanya mana? Dia yang ngambil poto. Itu abis makan- makan perayaan ulang tahun dia yang ke... Entah keberapa sih.

Anyway, seiring berjalannya waktu, kita jadi semacam bikin gank. Bukan gank sih, tapi kelompok sarapan, makan siang, makan malam, nonton bareng, makan es krim bareng dan ngopi bareng. Sarapan gak satu full-team, paling beberapa aja, dan kadang gabung dengan orang lain. Makan siang juga begitu. Pas makan malam biasanya jadi full- team. Bukan makan malam sih, tapi ngopi- ngopi sambil ngobrol gak jelas di Coffee Bean Pacific Place. Menunya hampir sama, pesan quiche, tiramisu, saya mah setia sama oreo cheesecakenya. Kadang nonton bareng, kecuali si Baju Merah, karena saat itu punya pacar. Mendingan nonton sama pacar.

Nontonnya gak cuma di bioskop, tapi juga di ruangan si terdakwa tersebut. Nonton film Taken atau film- film B-rated lainnya. Biasanya film action agak sadis, karena saya suka sesuatu yang sadis. Sering juga makan es krim bareng. Diprakarsai oleh saya yang melonjak kegirangan melihat puluhan pint es krim paling enak sedunia, Ben and Jerry's terpampang di kulkas Kemcik, dan langsung kalap beli, dan langsung makan rame- rame di ruangan terdakwa. Sejak itu beberapa kali kami melakukan hal yang sama, makan es krim bareng, berbuat keriaan, kembali ke meja saat ada orang yang masuk ruangan.

Time flies by, and just like I only believe, any kind of relationship has an expiration date. Kita semua jadi mencar- mencar. Yang paling kanan gak lama setelah foto itu diambil pergi ke KL. Kemudian si Baju Merah, cabut dan kantornya jauh. Then shit happens, well most of the problem caused by errr, me, akhirnya beneran pisah, bubar jalan. Gak pernah jalan bareng rame- rame lagi. Gak pernah nonton bareng rame- rame lagi. Gak pernah ngumpul di ruangan itu rame- rame lagi. Damn, I'm teary-eyed now for writing this. This is one of the friendship that I love the most.

Lain kali lanjut lagi deh, kalau niat.

So long, si Andropause, si Goweser, yang selau ngaku muda padahal staminanya jauh menurun. Semoga sukses di tempat baru. Semoga gak bandel lagi terpisah dari kami yang baik- baik ini, muihihihi.

I'm gonna miss you, and heck, I miss you already. I miss us.


Tuesday, September 18, 2012

Let's Make Love, Not War

Ada yang udah nonton Innocence of Muslim? Saya sih belum. Walaupun video itu sedang sangat marak. Saya buka twitter, pada ngomongin itu. Saya buka Yahoo News, pada ngomongin itu. Belum sempat cari video itu lewat Youtube, karena kerjaan lagi numpuk banget. Pulang dari kantor aja jam setengah sembilan. Gak jadi pitnes, padahal gara2 nyemilin kastengel satu stoples sambil baca pas libur lebaran, berat saya naik dua sampai tiga kilo. Eh, koq jadi curhat.
Okay anyway, intinya saya belum nonton. Terus pas malam telponan sama sang kekasih yang sedang otbon di daerah Cisarua, dia ngebahas masalah video ini, dia udah nonton katanya. Agak tersulut api kemarahan nampaknya. Yah walaupun dia sok cool seperti biasa sih, tapi tetap saja terlihat marah.
Dan saya baca di berita sore harinya, bahwa Duta Besar AS di Libya mati terbunuh gara- gara video itu. Congrats dude, you follow their script, for showing that all Muslims are Barbarians. If I met you, I will give the standing ovation. Nice job, dude. Nice job. Well, if you are idiot enough for following their script, I assume that you are idiot enough for not noticing that I'm being sarcastic.
Buat yang udah nonton video itu, dan kemudian marah, coba baja tulisan si Saletan dulu di sini.
Asal kalian tahu, semua agama itu dihina di internet. Jangan dikira cuma Islam doang. Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi, bahkan mungkin Shinto dan agama minor lainnya. Ada yang menghina nabi kita dengan sangat parah, keep calm. Internet's people mock everybody, every religion, every race, every state. If you are defensive and do the riot, you are getting traped for letting be yourself to be stereotyped. Muslims are barbarians. They shoot the amateur video, they mock us, then idiot Muslims react, then they say "See, we are so fucking absolutely right, they are brainless, they are barbarians, they are killers, they are cancers that need to get removed"
Keep calm, dude. Prove them wrong. We are educated and class- act Muslims. We don't know if the video maker has the hidden agenda. Maybe there is a conspiration, maybe there is a scenario that will give some advantages to some people. So, please, keep calm. You watched the video in Youtube, just report it as spam.
Ada kata- kata yang bagus banget dari Saletan. Tuhan itu, siapapun Tuhanmu, terlalu besar, terlalu agung sampai bisa terganggu oleh para idiot- idiot tersebut.
Jadi inget, I dated a Catholic few years ago. We'd been dating for almost two years. Apakah kita berdua pernah berdebat agama? Nope, not at all. Dan pada saat dia bertanya apakah dia harus pindah agama, saya cuma bilang gak perlu. Agama bukan sesuatu yang bisa dirubah seenaknya seperti itu. Walaupun dia tidak terlalu rajin ke gereja, saya tahu dia mencintai Tuhannya. Dan ada sesuatu yang menyenangkan saat bersama dia, sometimes we make fun of each other's religion. Dia memberitahu saya joke tentang Islam, dan saya memberitahu dia joke tentang Katolik. Did we hurt each other? Not at all. Bahkan saat dia main ke rumah saya, dan ayah saya memberikan jokes tentang Jesus, dia bilang ke saya "Sumpah yah, papa kamu jenius!"
Dan saat teman- teman saya tahu saya menyukai video si Akhmed the Dead Terrorist, mereka agak terkejut, karena itu mengungkapkan stereotype si Comic, bahwa teroris itu muslim. Saya sakit hati? Nggak, itu wajar. Karena adanya propaganda, dan muslim idiot yang mengikuti skrip propaganda tersebut, tidak salah jika para awam menganggap seperti itu. Joke is joke. And I find the joke is hillarious.
Mungkin saya pengkhayal sejati, berharap suatu saat nanti, entah berapa tahun lagi, entah puluhan tahun lagi, entah ratusan tahun atau mungkin ribuan tahun lagi, semua orang tidak akan saling mencerca dan membenci hanya karena perbedaan agama.
"They'll keep blaming each other for having different Gods because none of them gonna blame God for making them different" kata seseorang di Twitter. Actually, you don't have to blame God, just blame all of the morons who drop the hatred.
Have a nice day, folks.