Wednesday, April 12, 2017

Silly Parent's Expectation

It was less than two years since I became a mother. My lack of experience (well, duh) and lack of knowledge always make me question and regret anything I've done to my one and only, my precious one, Bumi. Despite of all my mistakes and careless decisions toward him, he still loves me wholeheartedly. It makes me think I don't deserve him, he's just too good to be true.

He makes me realize that have full tummy, could sleep under the roof, had a nice (not fancy, but quite nice one) clothes actually are privileges. Selama ini gua mikir yang namanya gak kelaperan, bisa tidur nyenyak, bisa mandi kapan pun itu ya hak semua makhluk hidup. Soon after I gave birth to him, I realize I was entirely wrong. Having him is such an enlightening moment.

Sampai Bumi hampir dua taun ini, gua gak terlalu berharap macem2 sama dia. Selama dia sehat, kenyang, tidur nyenyak, baju cukup, ceria dan bahagia, everything is alright. He is witty, and I really hope he will grow up as a witty and lovely boy, and then soon enough, will be a very nice man. Makanya suka bingung sama orangtua yang kayanya terobsesi banget punya anak pintar...buat dipamerin atau dibanggain. Anak hafal satu surat quran, posting di path, facebook, twitter, snapchat, instagram, kalo masih ada, mungkin friendster juga.

No, I'm not against people who like to post their children's photos at social media, but sometimes it was like parents have no limit.

Sometimes they have a silly expectation to their child(ren). Pengen anak suka baca (lha emak bapaknya gak pernah atau jarang baca, terus anaknya mau nyontoh dari siapa suka bacanya). Dulu ada rekan kerja yang nanya ke gua "Gimana ya Ras, biar anakku suka baca kaya kamu?". Terus gua bilang ya dulu bokap gua setiap minggu ngajak gua ke gramed buat beli buku and any book will do. Boleh beli komik, tapii harus tetep ada buku "pelajaran"nya. Jadi ya biasanya setiap minggu itu gua beli komik2, ditambah LKS hits jaman dulu yang namanya kunti (tekun dan teliti), dan arif, kadang ditambah buku biografi tokoh2 yang tipis.

Terus si rekan kerja ini bilang lagi "aku udah bawa ke gramed, tapi ya dia gak tertarik, baca komik aja gak mau,". Terus gua bilanglah "mbak suka baca buku gak? Atau suaminya?", dan sesuai dugaan dia bilang "nggak,". Lha pegimane? Anak kan peniru ulung. Kalo orangtua pada gak doyan baca, mau niru siapa? Atau anak dikasih gedget mulu, terus gimana dia bisa mau baca.

Alhamdulillah (semoga gua ngejanya bener nih), Bumi lumayan tertarik sama buku. Dari dia belom bisa tengkurep udah gua bacain buku. Dan dia sering liat gua baca buku (walau cuma komik dan harry potter), tapi tetep yang penting dese doyan baca jadinya. Sering minta bacain. Tapi terus bapaknya malah males bacain, dan malah ngasih gadget (bikin wa kzl beut).

Gua gak bilang gadget itu haram, tapi yah jamgan banyak2lah ngasih gadget ke anak. Gua batesin gadget buat Bumi cuma 2 jam sehari, dan nonton TV satu jam sekali. Contrary to popular opinion, gua gak terlalu memikirkan dampak psikologis anak kaya jadi lambat bicara dsb, gua lebih ngeri sama kesehatan mata dia. Takut matanya rusak. Udah itu doang. Makanya pas dia pegang ipad, brightness gua setel di paling rendah, dan lampu nyala terang benderang. I find there's some positive effects juga koq ngasih gadget ke anak, such as: di umur dua taun dia udah bisa ngitung sampe sepuluh (it may be common for toddlers these days, tapi gua yakin pas gua umur 2 taun gua belom bisa), tau semua warna (in english though, tapi ya kalo diomongin misalnya "ambilin mobil merah," ya dia ngerti juga), dan udah tau huruf (only a few).

Anyway, I know that having an obsession to have bright children is completely normal, but as parent who is much older and hopefully much wiser, please have some limitations. Apalagi buat anak di bawah umur grade schooler, just make sure they are healthy and happy and will grow up as a decent human being.


Btw, ini postingan kayanya ada di draft gua dari taun lalu. Tapi baru publish sekarang. Entahlah mengapa gak dari dulu aja. Mungkin karena udah jadi emak2 terus massa otak jadi berkurang seons.

Fantastic Beasts dan Di mana Kamu Bisa Menemukannya

Fantastic beast and where to find them

Jadi.....gua akhirnya nonton di bioskop!!!! Gila, senengnya gak ketulungan, lebih seneng dibanding makan martabak! Kenapa? Karena udah dua taun gua gak nonton di bioskop, mennnn... Pas hamil Bumi, trimester ketiga mulai muntah2 lagi, tapi gak pagi, tapi malem. And pregnancy bladder is killing me. Bisa 15 menit sekali gua pipis, kebelet parah, pas keluar cuma kaya sesendok. Manalah napsu gua nonton bioskop kan? Cuma pengen cepet sampe rumah, hit the shower, then hit the hay.

Dan...sejak pindah ke BSD, lebih tepatnya komplek De Latinos, dan terus ngeh ongkos uber cuma 15ribuan ke teraskota; gua langsung mikir pas Bumi molor gua mau nonton bioskop. Gantianlah bapaknya yang jagain, guanya kongkow2.

Dan gua pilih Fantastic Beast. Adit yang udah nonton bareng temen2 kantornya bilang filmnya zonk banget, gak banget, jelek dsb. Yah... I have low expectation for this movie actually, but this is the movie that I have to watch!!! Gua suka banget sama Harry Potter, entahlah udah khatamin berapa kali serinya. Dan pas gua akhirnya nonton, ya ampun sukaaaaaaaaaa......

Si Newt juga unyu amat, quirkie awkward gemesin gitu. Pas nonton di awal2 aja, gua langsung cekikikan sendiri, when they drop the hint that he was a chaser for hufflepuff. Tapi sebelah2 gua pada muka datar aja nontonnya.

Anyway. Gua mau bahas filmnya. Kali ada yang nyasar ke blog gua, dan juga berpikiran kalo film ini "apaan sih? Gak jelas". Hmm, gua mafhum sih kalo yang bilang gitu karena gak baca bukunya. Tapi buat yang baca, kaya langsung kebayang masa2 Grindewald saat itu lagi berkuasa.

I will elaborate about this movie, not about the plot, but about the background, the setting.

Sebelum Voldemort lahir, ada satu penyihir dari Dumstrang, yang bernama Grindewald. Dia dikeluarin (kalo gak salah) karena membunuh salah satu murid sekolahnya (by duel or by experiment, lupa). Dumstrang sendiri emang terkenal sebagai sekolah sihir yang sangat toleran terhadap Ilmu Hitam, teach the dark arts, unlike Hogwarts that teach the defence of dark arts (hence Draco said his father almost enrolled him there, but his overprotective mother didn't agree cause it was too far away).

Dan Grindewald dan Dumbledore itu sempet sohiban. Dumbledore yang waktu itu udah lulus dari sekolah, harus menjadi kepala rumah tangga karena ibunya meninggal. Grindewald adalah keponakan (apa cucu ponakan) dari Bathilda Bagshot (pengarang buku Sejarah Sihir), tetangganya Dumbledore. Terus karena persamaan mereka (sama2 murid cerdas luar biasa, sama2 tertarik sama deathly hallows, dan...sama2 mau membuka identitas penyihir dari dunia muggle) mereka jadi akrab. Yah kalo dalam dunia abege udah macem summer fling gitu deh. Tapi terus Grindelwald adu pendapat sama Aberforth, adeknya Albus Dumbledore, dan diakhiri dengan matinya Ariana. Grindelwald kabur, dan persahabatan mereka putuslah sudah.

Albus Dumbledore sejak kematian Ariana jadi berubah. He was a kind and gentle hearted from the beginning though, but the death of his sister changed him in so many ways, he realized that he was such an arrogant prick. But Grindelwald in the other hand, menyebarkan teror dan ilmu hitam hampir ke seluruh dunia (selain ke wilayah inggris, karena dia gak mau berurusan sama Dumbledore). Dan akhirnya Grindelwald duel sama Dumbledore, and as we know, Dumbledore menang. Grindelwald kalah, dipenjara di Numergard. Dan akhirnya, di masa tuanya, dia dibunuh sama Voldemort.

Jadi kaya seri film Fantastic Beast ini bakalan ceritain tentang Grindelwald as the main villain. It was interesting, at least for me, to know the young Dumbledore (well, maybe not that young, maybe the middle-aged Dumbledore). Karena selama di seri Harry Potter, yang ada hanya versi tua dan bijaksananya doang. Versi ranum cenderung kematengan bisa dibilang. 

Dan ada satu lagi yang bikin gua betah nonton film ini. Eddie Radmayne unyu bangeeeettttt... Pas nonton dia di Les Mis sih gua gak tertarik sama dia, biasa aja maksudnya. Dia macem abege labil yang galau tentang perempuan doang, jadi ya gua bodo amat nontonnya. Lagian, di Les Mis ada Hugh Jackman, konsentrasi gua udah penuh banget ke dese. Tapi di sini, oh my goodness, his quirky gestures keep me captivated, his freckles are so adorable.


Lumayan deh nambah2in daftar idola. Karena gua emang lagi kurang bernafsu sama RDJ, Tom Hiddleston, atau Hugh Laurie, kurang gairahlah kehidupan gua. Sampe temen gua (sebut saja namanya Duhita) bilang "oh men, you're so pitiable. Our obsession towards them is the thing that keep us sane!". 

Thursday, September 15, 2016

Pre-pre-school

Yes, Bumi udah gua masukin ke PAUD deket rumah gua. Kenapa gua masukin dia ke sekolah padahal umur juga belom nyampe 2 taun? Karena gua pengen dia cepet baca? Cepet bisa berhitung? Cepet belajar bahasa asing? Nope. Simply because koq ya si Bumi tuh sumeh amat yaks? Kalo lagi ke mall, ada anak gedean dikit, dia suka nyamper2in sambil nyengir ngarep diajak maen.

Akhirnya setelah negosiasi alot sama kepala PAUD, yang tetangga sebelah gua banget, akhirnya...Bumi boleh masuk sekolah di umur 1,5 taun. 

Terus ngapain aja dia pas sekolah? Well, as expected of a one year old toddler, dia gak bisa duduk diem lama. Gurunya bacain buku cerita, dia dipangku sebentar, abis itu kabur. Lari ke arah perosotan. Disuruh ngewarnain, coret2 semenit, banting2 krayon terus asik nyusun krayon ke kotaknya. Berantakin lagi, susun lagi. Jadi sepanjang pelajaran selama 90 menit, dua kali seminggu itu, ya dia diem 5 menit. Sisanya kabur main perosotan, rebutan mobil2an, lari2 dan main ayunan.

And I have no problem with that, paling ngos2an ngejarnya. He's happy, and that's all that matters. Never push him to go to school, but he already knows his ritual to go to school after wear that cute purple uniform, and he always seems can hardly wait to go there.

Ada yang masukin anaknya sekolah demi sosialisasi sama anak sebaya, and well, simply put, that's one of my reason to enroll him. But I don't have many expectation about that. Dia kayanya belum bisa berbagi mainan, tapi kalo direbut ya gak sewot atau mewek. Paling cuma nunjuk mainannya sambil bilang "Mamah!!! Jeh! Jeh!!". Then I just respond "Iya, mobilnya dipinjem kakaknya, Bumi main yang lain,". Until now, he never makes a scene, and I'm truly grateful for that.

Dan gua pilih PAUD mana? Gua pilih yang deket rumah aja, yang jalan kaki cuma lima menit nyampe. Dengan uang bulanan cuma 100rebuan. Pertama karena, gua kagak ada mobil buat nganter dia sekolah jauh2, mobil kan dipake Adit buat ngantor. Dan kemudian, uang bulanan murah. Awalnya kepikiran masukin sekolah mahal, tapi daripada gua musti kerja ninggalin anak dari Senen sampe Jumat demi nyekolahin dia di sekolah mahal, mending masukin ke sekolah murah tapi bisa gua anterin dan awasin terus.

I'm not against the idea of enrolling a kid to a good yet pricey tuition fee. Tapi sampe sekarang, kayanya masih belum perlu. Untuk anak seumuran Bumi, mana dia peduli dia masuk sekolah mahal atau murah, he won't know the differnce. He just needs me to be around and protect him. Mungkin nanti akan ada tuntutan lebih untuk sekolah bagus, but now, it is more than enough.




Friday, July 1, 2016

Traveling with a baby and/or toddler

It sounded impossible for me to travel by plane or train with a baby, but as time went by, finally I gave up to give it a try. And after a few times traveling with Bumi, I may say I know some tips about it.

1. Peralatan Mandi

Fortunate enough, I seldom apply minyak telon, minyak rambut, bedak bayi dan segala tetek bengek pas mandiin Bumi. Pertama karena bedak bayi itu banyak mudharatnya dibanding manfaatnya. Resiko taburan bedak itu kehirup bahaya, dan basically gak ada manfaatnya tuh bedak bayi selain bikin wangi anak dan cemong2in muka biar keliatan kaya udah mandi. Same goes with minyak telon dll, jarang2 gua pake. Paling gua pake minyak telon pas mandinya udah kemaleman, atau lagi ujan dan hari lagi dingin, atau si Bumi lagi sakit. Other than that, ya abis mandi dese andukan, pake baju, kelar deh.

Dan pas gua mudik atau liburan (baru nyoba ke Jogja doang naik pesawat, dan ke Bogor naik mobil), gua biasanya bawa sabun sampo yang top to toe. Lebih ringkes dan praktis. Awalnya pake yang California Baby, yang organik dan la la lala, tanpa perfume. Pas sih gua pake pas Bumi masih bayi, kalo sekarang? Yah setengah jam abis mandi udah kecut dese kalo pake ini. Pernah nyoba Earth Mama Angel Baby, ini enak karena bentuknya foam dan beraroma jeruk (walau pas dipake Bumi, gak lama abis mandi dia keringetan, baunya jadi bau jeruk busuk gitu deh). Terakhir nyoba yang Beauty Barn, enak juga, aroma jeruk juga. 

Nah kalo anak lo gak ribet kulitnya kaya si Bumi yang pake merk lokal kulitnya merah2, lebih asoy lagi. Beli aja di tempat tujuan. Kan alfamart/ indomaret pasti jual zwytsal atau jonssons. Segala minyak telon atau cologne juga beli aja di sana, beli ukuran kecil. Nanti pas pulang, tinggal di hotel (ini gua banget).

2. Pemilihan Hotel

Pilih hotel yang menyediakan baby cot (berguna pas Bumi masih mau tidur sendirian di baby cot, kalo sekarang cuma biar dia bisa digeletakin di baby cot sambil nongton tipi, gua bisa mandi, Ditsu bisa istirahat ngaso bentar), ada bath tub (pernah nyoba mandiin Bumi di shower, dia teriak2, akhirnya mandiin dia di...wastafel *tepok jidat...nya RDJ), ada playground buat anak-anak, biar kalo bosen di hotel dan lagi gak mau pergi2, dia bisa main di sana. 

Kayanya hampir semua hotel ternama ada playgroundnya. Bisa juga cari hotel yang kid-friendly, bisa dicari di google koq.


3. Bawa Stroller yang ringan, compact

Gua punya stroller cuma sebiji sih yang MacLaren Quest, dan itu ternyata pas banget buat yang doyan pergi2 karena ringan, gampang lipetnya. Walaupun anak udah bisa jalan, tetep bawa stroller, mana tau doski kecapekan dan gempor kalo gendong anak kelamaan (Imagine carry your kids who weigh about 12 kilos. Hello backpain my old friend... I've come to talk to you again). Lagian, kalo kagak dipake kan bisa buat tarok2 tas sambil jalan2. Yah intinya versatile sekali stroller ini.

Dan buat gua yang kalo mudik kagak ada highchair di rumah mertua, si Bumi jadinya makan di stroller deh.

4. Pemilihan jadwal pesawat atau perjalanan menuju bandara

Ini tricky banget sik kalo buat gua. Rumah gua ke bandara itu 1,5 jam kira2 jadi sebisa mungkin jalan pas jam tidur pagi menjelang siangnya Bumi. Tapi, kalo naik taxi ke bandara dan gak pake carseat, wasalam deh dia bakal tidur, ada juga kelayapan di mobil. Dari gua ke Ditsu, ke gua lagi, ke Ditsu lagi. Tidur pas udah mau nyampe bandara.

Paling ideal sih berangkat ke bandara selesai Bumi tidur siang, tapi sayang jadwal pesawatnya yang gak pas. *sigh*.

5. Pemilihan destinasi liburan

Kalo bawa bayi yang makannya masih harus dialusin, atau masih di bawah setaun, terus lo bawanya ke daerah antah berantah macem...Sulawesi atau Irian atau Kebumen mungkin ribet. Sebisa mungkin bawa jelong-jelongnya ke daerah kota besar macem Jakarta (yang kagak tinggal di Jakarta), Bandung, Bali. Kenapa? Karena kota besar gitu biasanya ada yang jual makanan bayi yang homemade. Tinggal google dan cari-cari info aja deh.

6. Bring home to your destination

Some babies are sensitive enough to know that they are not at their usual place, so you may make your destination as your home. Simply by bringing their pillow or bolster and/or favorite blanket and lovey. Bumi has his favorite lovey, the blue teddy bear and stuffed smurf. Jadi ya tiap pergi gua bawalah salah satu dari dua boneka itu. Just in case he's getting any cranky.

Udah sih itu aja, buat gua. Udah ah, si Bumi udah bosen nongton tipi sambel nyemil.

Bye

Sunday, June 19, 2016

Whew...

Postingan terakhir di blog ini adalah sebelum Bumi lahir ternyata yah. Yah maklum, walaupun sekarang gua hanyalah emak pengangguran, tapi ribet banget ngurusin bocah satu itu. TV series udah gak ngikutin lagi, bioskop udah tak terjamah lagi (bye bye my Tony Stark). 

Nonton TV Series? Kalo ada waktu mah mending gua molor. Nonton bioskop? Gimana caranya? Masa si Bumi gua tinggal? Masa dia gua bawa masup bioskop? Terus nonton pilem orang gede? I gave up some of my hobbies, and social life. And I have no problem with that. Jenuh sih kadang, kadang juga kepikiran buat kerja lagi. Tapi koq ya gak tega titipin si Bumi ke orang lain (entah babysitter, daycare atau siapapun).

But I do realize that there are many mothers who cannot be a stay at home mother (SAHM) by choice or simply have no choice left. Ada temen gua yang emang gaji suaminya aja kayanya belum mencukupi biaya rumahtangganya dengan dua anak. Yah emang sih teorinya Allah akan mencukupkan rejeki seorang ayah untuk makan dan pendidikan anak-anaknya, but hey, keadaan tiap keluarga beda. 

Ada temen yang cukup sih walaupun hanya ayahnya yang bekerja, tapi jaminan kesehatan si ibu ini jauh lebih baik dari si ayah. Yah bukannya mau anaknya sakit, but just in case something happens. Ada juga temen yang dengan gagah bilang gak sanggup gak kerja karena takut bosen dan dia tau banget ngurus anak itu capek pol, dan ngeri naik darah ke anaknya. Well, can I judge her? Ya kagaklaaaah... Gua soalnya sering naik darah juga ke si Bumi apalagi pas lagi kurang tidur.

Ada temen gua, sebut saja namanya Mirabih, she is such a super mom. Tinggal di Melbourne, gak ada pembantu atau babysitter. Dia bebenah rumah sendiri, masak sendiri, ngosek kamar mandi sendiri, dan punya dua anak, ya dia urus sendiri. Capek pol, dan dia ngaku sering marahin atau nyuekin anaknya pas kecapekan. Kebayang sih gua. Apalagi anaknya dua-duanya cowok. Lha gua punya satu anak cowok aja capek banget dengan gaya petakilan dia. Jadi kalo ada yang bilang gak sanggup dan lebih milih kerja, gua dan si Mirabih ini cuma bilang "Wajaaaaaaaaaaarrr......,".

Nah yang ngeselinnya kalo ada temen yang suka komen. Jadi baru-baru ini ada grup temen esempe, dan gua join. Dan pada bikin rencana buka puasa bareng. Dan gua langsung bilang kagak bisa. Gak mungkin ninggalin Bumi, dan ribet nyuapin Bumi, dan biasanya abis selesai Bumi makan, gua siap2in dia buat tidur (bebenah kamar, gantiin baju, ajak main sebentar dll). Gua males menempuh macetnya jakarta dengan resiko Bumi cranky di mobil.

Terus ada yang nyeletuk "Hidup lo ribet amat sih punya anak, Ras?". Bangsat gak? Asli kesel gua. Ngerepotin dia juga kagak. Komen seenak perut. Gua cuma jawab "Yah nanti lo rasain sendirilah punya anak petakilan dan gak ada pembantu,". Terus dia bales lagi "Sensi amat lo,". Kan anjing.

Terus ada lagi temen esempe yang lain nyuruh2 gua kerja lagi. Gua bilanglah gak tega ninggalin Bumi. Dia bilang titip aja ke bokap nyokap lo, kasih embak. Gua tetep bilang gak tega. Terus dia bilang kalo gak masukin daycare, gua bilang lagi gak tega kalo nanti pulang macet dll. Eh dia bilang "Gak sayang lo kuliah capek2, gak sayang sama gelar lo?"

Tot.

Bawaannya pengen bilang "Gua lebih sayang anak daripada gelar,". Tapi ya males gua tanggepin. Jadi gak gua bales watsapnya.

Terus inti blog ini apa? Kagak ada sih.

Lagi kesel aja.

Monday, September 15, 2014

Pregooo...

Semenjak tau kalo gua hamil, gua rajin banget baca-baca tentang kehamilan di berbagai artikel majalah dan artikel berita di internet serta baca segala thread di forum kehamilan dan nanya-nanya ke temen yang lumayan well-informed, sebut saja namanya Wiliya. Mulai dari pemilihan dokter/OBGYN oke, pemilihan rumah sakit oke,test apa aja yang harus gua ikutin, obat aja yang harus dikonsumsi, semuanya gua cari tau dari awal kehamilan.

Eh gak awal banget sih, karena ternyata pas minggu-minggu awal kehamilan itu kan gua muntah parah, pilek, dan sampe keputihan parah. Dan gua gak ada pikiran hamil sama sekali awalnya. Karena...errr...gua terbiasa masuk RS karena asam lambung, muahahahaha. Jadi pas gua muntah parah dan masuk UGD, gua pede berat itu karena asam lambung. Yah berhubung dari jaman SMA gua emang punya radang lambung akut. Padahal dokter di RSPP waktu itu udah nanya "Lagi hamil gak nih?", dan gua jawab dengan jumawa "Nggak, baru selesai dapet koq,". Dan itu beneran banget baru selesai, baru semingguan selesai dapet. Mana ada pikiran hamil? Akhirnya gua langsung diinfus, dan dienjus dengan beberapa macam obat asam lambung, terus gua pulang.

Dan kalo masalah pilek, dengan bodornya gua langsung minum RHINOS. Ya walaupun katanya pilek salah satu pertanda hamil, masalahnya gua juga sering ingusan. Gua kan anaknya umbelan banget (koq malah bangga?). Jadi mana kepikiran lagi kalo hamil? Lagian koq tanda kehamilannya pilek sih? Itu kan common disease banget. 

Nah terus pas keputihan ini gua baru was-was. Karena...gua gak pernah keputihan. Keputihan terakhir esempe kayanya, pas sebelum menstruasi. Nah paling gua keputihan itu beneran berwarna putih atau malah bening. Dan itu biasanya karena kecapekan atau pas deket mau dapet. Nah ini gua baru selesai dapet, keputihannya parah banget. Sampe harus ganti celana dalam berkali-kali. Akhirnya ke dokter lagi, dan dokternya juga kaget koq bisa banyak gini. Dan dites deh, dan segalanya normal, jamur gak ada, bakteri gak ada, tapi leukosit tinggi. Akhirnya dikasih zithromax atau apalah itu. Antibiotik yang lumayan keras, dan tiap abis minum itu gua mual mau muntah bahkan agak diare.

Dan ini nih yang bikin gua agak menyesal. Karena gua minum banyak obat tanpa tau kalo lagi hamil. Dan sampe sekarang suka bikin gua was-was, ini gimana pas awal hamil yang bahkan minum obat sakit kepala aja harus dihindari, gua minum obatnya parah banget. Si bayi calon heolohis baik-baik aja apa nggak.

Enihu, dari baca segala macem thread di forum internet, sampe dengerin cerita orang yang lagi hamil maupun yang udah ngelahirin, barulah gua tau kalau ternyata sesama emak-emak itu nge-judge-nya pol banget! Jadi yah ada rekan kerja yang dia lahiran emang niat caesar, dengan pertimbangan umur di atas 30, gak mau trauma melahirkan karena pengen cepet bikin anak kedua, karena pertimbangan umur itu kan. Nah, yang lahiran normal, buset dah menghakiminya kece berat. Dia bilang jangan caesar deh kalo cuma buat menghindari rasa sakit dan bla bla bla. Satu yang gua yakin sih, yang namanya melahirkan itu sakit banget pasti. Dan entah pengaruh sinetron, opera sabun atau apa, tapi yang ada di otak gua, yang namanya ngelahirin itu adalah waktu di mana gua bakalan teriak-teriak dan garuk-garuk tembok banget saking sakitnya.

Dan kalo ada orang yang menghindari sakit itu, yah wajar aja. Dan kemudian yang normal bilang itu kan tugas seorang wanita, seorang ibu. Pertanda jadi ibu sempurna itu ya melahirkan normal dari vajayjay, bukan dibelek perutnya. Dan yang ada di otak gua "Urus aja kali anak lo sendiri, recet amat ngurusin orang lain,". Lagian yang namanya emak kan bukan pas lahiran doang. Dari mulai lo nyari pasangan hidup, lo udah mikirin jadi emak, ya gak sih? Apakah pasangan bisa menjadi bapak yang baik, bukan cuma sanggup ngasih nafkah, tapi juga mendidik dsb. Ya gak sih? Dan mulai dari pas hamil juga, berusaha menahan diri gak makan sashimi (mau sashimi, tolonglah, saya rindu sashimi), dll. Dan pas anaknya udah lahir, ya tugas ibu juga buat menjaga, mendidik dsb.

Masa kategori ibu baik apa kagak cuma diliat dari lahiran lewat vajayjay atau lewat perut dibelek? Shallow amat. Dan ada lagi nih, masalah ASI dan susu formula. Yah kalo ada seorang ibu yang mau kasih anaknya susu formula, ya sudahlah yah, walaupun gua sendiri berpikiran yang namanya ASI itu emang paling baik, tapi kan kita gak tau alasan dia kasih susu formula ke anaknya kenapa.

Dan ada rekan kerja kantor, yang dia lahir prematur, pas masih 7 bulanan. Kalo dia bilang, pas lahir dia kecil banget kaya anak bajing, dan... jaman dia dulu lahir itu gak ada tuh susu formula, jadi akhirnya dikasih...air tajin. Apakah ada yang gak normal dari dia? Kagak. Badannya bongsor koq, tinggi banget, sehat. Pinter-pinter aja tuh, buktinya di umur 30an udah dapet gelar doktor, dan dia jadi konsultan di berbagai perusahaan, sukses tuh kalo diliat dari materi juga. Yang dapet ASI eksklusif belom tentu sesehat dan sepinter dan sesukses dia juga kan? Jadi udahlah, gak usah sok nge-judge.

Dan ada lagi topik panas di sekitaran emak-emak, menjadi stay at home mother atau working mother. Kedua belah pihak sama-sama pedas mengkritik. Gua sendiri sih udah kasih surat resign dua minggu yang lalu, dan awal Oktober gua udah jadi emak rumah tangga, kalo bahasa kerennya homemaker. Ada ketakutan sendiri sih sebenernya, gua udah terbiasa punya uang sendiri dari umur...21 tahun. Gua kerja dari 21 tahun men, walaupun waktu itu gaji gua sama aja kaya buruh, mepet UMR. Tapi kepuasan punya penghasilan sendiri itu gak bisa dijelasin kan? Kita jadi merasa berdaya, gak rentan sama insecure feeling dsb.

Mau beli komik, tinggal beli, gak perlu pake minta. Mau beli baju, atau sepatu, atau tas, tinggal beli. Gak perlu minta ke siapapun. Kalo si suami lagi lupa bawa uang pas makan di luar atau pas mau nonton atau apalah, gua bisa dengan jumawa bilang "I got it covered,". Mulai bulan depan mungkin gua mau beli komik aja harus minta beliin ke suami. Gak enak banget.

Tapi...gua cuma takut gua bakal mengulangi kesalahan yang sama kaya bokap nyokap gua yang dulu sibuk berat sama dunia mereka sendiri. We don't have the close bonding, close relationship. Dan pas bokap nyokap udah tua kaya sekarang, barulah mereka mau mendekatkan diri ke anak, yang udah telat banget, karena gua dan abang gua udah punya dunia sendiri dan prioritas sendiri.

Apalagi, ditambah dengan susahnya cari baby sitter yang baik jaman sekarang. Jaman gua masih lucu dan menggemaskan dulu, nyokap gua berhasil menemukan seorang baby sitter yang baik banget, keibuan dsb. Jaman sekarang? Udah gak keitung kasus kekerasan yang dilakukan oleh baby sitter, belom lagi penculikan dsb. Makin ngeri kan?

Tapi kalo ada yang tetep mau jadi working mother, dengan segala alasan mereka, ya gpp juga sih. Asal mereka sadar bahwa anak diawasin sama baby sitter doang gak cukup, harus ada orang lain lagi yang bisa dipercaya, entah orangtua kita, atau mertua atau saudara dekat. Kalau mempercayakan sepenuhnya ke baby sitter, apalagi yang baru kita kenal beberapa bulan sih itu entah egois atau bodoh sih.

Udah dulu ah, mau sok kerja, walaupun bos lagi gak ada juga sih.

Ciao.

Wednesday, June 4, 2014

Untitled Four

Aku mengusap-usap rerumputan yang tumbuh subur di gundukan tanah itu. Saat aku datang, rerumputan sudah mulai agak meninggi, dan kuminta seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk di dekatku untuk merapikannya. Sang bapak tua berkaus hitam yang mulai keabu-abuan mengangguk dengan sigap, dan sekitar sepuluh menit kemudian kuberikan ia sedikit uang. Kubelai nama yang tertulis di nisan tersebut, seakan membelai rambutnya. Padahal selama ini aku tidak pernah membelai rambutnya, yang aku lakukan hanyalah mengacak-acak rambutnya yang berdiri atau menoyor kepalanya saat ia mencelaku.

Aku menaburkan bunga, entahlah dia suka bunga itu atau tidak. Dua puluh tahun lebih aku mengenalnya, aku bahkan tidak tahu bunga apa yang ia suka. Yang aku tahu hanya bahwa ia tidak suka sepak bola, tidak terlalu tertarik dengan perkembangan teknologi. Hampir sebagian waktu yang ia habiskan di rumah hanya untuk menyentuh gitar yang dia beli di salah satu toko buku terkemuka dari hasil tabungan uang lebaran saja.

Lebih dari dua puluh tahun, aku bahkan tidak terlalu yakin apa warna kesukaannya. Biru tua atau hitam ya? Tapi sepertinya ia memiliki banyak baju berwarna abu-abu. Kamarnya yang dulu biasanya berbau campuran minyak wangi dan bau rokok, telah berganti perlahan-lahan menjadi bau pewangi kain dari seprai yang selalu diganti setiap dua minggu sekali. Yang tersisa dari kamar itu hanyalah aroma pakaiannya saja, tapi itu sudah memudar pula, tergantikan dengan bau kapur barus.

Tanda keberadaannya mulai hilang, dan yang paling aku takutkan menjadi kenyataan, ingatanku tentang dirinya mulai menghilang perlahan. Kalau tidak salah ia punya lesung pipi, entah di kanannya atau kirinya. Aku masih dapat mengingat suaranya, itu pun karena aku memiliki beberapa video dirinya, serta kadang aku menelpon ponselnya hanya untuk mendengarkan suara di mailboxnya saja. Kadang saat aku mengalami suatu kejadian, menyenangkan atau tidak, di malam hari aku memejamkan mata, dan membayangkan bercerita padanya, mengira-ngira apa komentarnya, celaannya, caranya tertawa, semua reaksinya.

Sudah hampir tiga tahun, dan aku masih merindukannya, sangat rindu. Rasa rinduku begitu besar sehingga tidak dapat memahami mengapa kekasihnya, yang dulu nampak begitu mencintainya sekarang sudah menemukan pengganti dirinya. Ia bercerita padaku, tentang sesosok pria yang begitu gencar mendekatinya, awalnya ia enggan, namun seiring berjalannya waktu, ia menyerah dan memberikan hatinya untuk si pria baru tersebut. Apakah tidak terlalu cepat, tanyaku. Ia kemudian berkata bahwa ia tahu ini terdengar terburu-buru, tapi ia sudah mantap dan kemudian ia berkata tidak akan melupakannya. Aku hanya tersenyum tipis saat itu.

Dan hanya dalam waktu kurang dari dua bulan mereka melangsungkan acara lamaran. Dan kemudian acara pernikahan mereka akan dilakukan awal tahun depan. Hatiku hancur. Tadinya kukira ia akan terus menjadi teman senasibku dalam mengadu perasaan rindu.

Kupandang nama di batu nisan itu lagi, kubelai kembali.

Kubisikan beberapa patah kata di dekat nisan itu, dengan suara lirih. Sangat lirih, sehingga tidak akan ada yang mendengarnya, "Sudah kubereskan calon penggantimu, akan kubuang tubuhnya sebentar lagi. Tenanglah Kak, Seruni akan terus menjadi milikmu,".