Saturday, September 11, 2010

Hujan Bulan Juni

Pas hari lebaran kemarin, saya beserta keluarga berkumpul di rumah salah satu bude saya di warung buncit, di komplek perhubungan, di rumah yang telah bertahun-tahun mereka tempati. Di rumah yang selama dua tahun berturut-turut ini menjadi tempat berkumpul kami sejak bude saya yang paling tua telah meninggalkan dunia ini. Sejak bude yang masih saja saya rindukan setengah mati pergi...

Saat para kaum tetua berkumpul di ruang depan, bercengkrama mengenai masa lalu, mengenang saat-saat masih muda dulu, atau saat masih berada dalam jaman penjajahan. Mungkin topik mengenang masa lalu adalah topik favorit mereka sepanjang masa. Mengingat kembali betapa berdayanya mereka saat itu. Melupakan kerentaan mereka, meski hanya sejenak

Dan kami, para kaum mudanya, berkumpul di halaman belakang. Saling mengejek, mencela. Menghina beberapa saudara kami saat itu yang memakai baju koko namun mengabaikan panggilan sholat Jumat.

Sayapun berkata dengan nada mencela "Baju ala sheik, tapi kagak sholat Jumat, sana buka bajunya,"

dan kemudian mereka membela diri dengan mengatakan bahwa baju itu bukan pilihan mereka, mereka hanya dipaksa memakai baju itu oleh ibunya, atau ada yang mengatakan bahwa tadi mereka sudah solat ied, tidak perlu lagi sholat Jumat.

Kemudian saudara saya mengembalikan beberapa buku yang pernah ia pinjam, entah berapa tahun yang lalu. Dan diantaranya ada buku kumpulan puisi, atau prosa atau sajak, entahlah, dari Sapardi Djoko Damono yang berjudul "Hujan Bulan Juni"

Saya yakin banyak yang mengetahui Sapardi dari sajak berikut ini:

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Aku Ingin, 1989)

Jujur saja, walaupun menurut saya puisi ini sangat sangat indah, menyayat hati, namun saya juga membencinya. Saya benci karena banyak orang yang sering mengutip puisi ini tanpa mengetahui puisi milik siapa. Bahkan pernah menjadi penggalan dialog sebuah sinetron murahan yang entah mengapa dapat mencapai rating tinggi.

Dalam buku ini, ada beberapa favorit saya. Tentu saja hujan bulan juni adalah salah satu diantaranya:



tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(hujan bulan juni, 1989)

* * * * *

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impiankupun tak dikenal algi
namun di sela-selah huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

(pada suatu hari nanti, 1991)

* * * * *

terbangnya burung
hanya bisa dijelaskan
dengan bahasa batu
bahkan cericitnya
yang rajin memanggil fajar
yang suka menyapa hujan
yang melukis sayap kupu-kupu
yang menaruh embun di daun
yang menggoda kelopak bunga
yang paham gelagat cuaca
hanya bisa disadur
ke dalam bahasa batu
yang tak berkosa kata
dan tak bernahu
lebih luas dari fajar
lebih dalam dari langit
lebih pasti dari maksna
sudah usai sebelum dimulai
dan sepenuhnya abadi
tanpa diucapkan sama sekali

(terbangnya burung, 1994)

* * * * *

dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau, dan kata
kalian tahu, pisau barulah pisau
kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata

(kami bertiga, 1982)


* * * * *

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik,
merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kau lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.

(yang fana adalah waktu, 1978)


* * * * *

waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi
matahari mengikutiku di belakang

aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri
yang memanjang di depan

aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa diantara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang

aku dan bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang harus berjalan di depan

(berjalan ke barat waktu pagi hari, 1971)

No comments:

Post a Comment