Monday, February 3, 2014

Untitled One

Rasanya aku masih dapat mengingat dengan jelas, awal pertemuanku dengannya. Dia memakai kemeja kotak-kotak warna hijau yang sampai sekarang, tiga tahun setelahnya, masih sering ia pakai. Celananya saat itu celana jeans warna biru tua yang robek sedikit di bagian paha depan. Dan celana itu juga masih sering ia pakai sampai sekarang.

Penampilannya saat itu tidak terlalu jauh berbeda dengan sekarang. Seakan wajahnya, rambutnya, kulitnya tidak tersentuh oleh waktu sedikitpun. Aku pun berusaha mengingat perubahan apa yang tampak dari dirinya sekarang dengan tiga tahun yang lalu. Hanya kawat gigi saja. Kawat gigi yang ia pakai sejak SMA telah dilepas satu tahun yang lalu. Selain itu, rasanya semuanya sama.

Perubahan paling besar yang kurasakan adalah sifat dan sikapnya. Dulu, tiga tahun yang lalu kami hanya saling bertegur sapa jika berpapasan. Itu pun tidak setiap hari, bahkan tidak setiap minggu. Walau sejak perkenalan kami yang pertama, mataku selalu mencarinya. Rasanya aku datang ke kampus hanya untuk menatap sosoknya. Meski dari jauh, meski hanya sekelebat. Atau mungkin hanya sekedar mendengar suaranya yang saat itu menjadi semacam disc-jockey untuk radio kampus.

Seiring berjalannya waktu, kami menjadi semakin akrab. Aku sengaja memilih jadwal kuliah yang sama dengannya. Walaupun satu tahun pertama kami tidak selalu duduk berdekatan, namun tidak mengapa, karena berada di satu kelas yang sama saja sudah membuatku sulit berkonsentrasi menyimak dosenku. Dia selalu duduk di barisan tengah agak belakang, sedangkan aku selalu berusaha duduk di depan, agar tidak terganggu dengan suara orang-orang di kelas itu yang asyik berbincang sendiri. Namun dalam beberapa waktu, akhirnya aku duduk mulai agak ke belakang, berusaha mendekatkan diri dengannya, dan temannya.

Dia punya beberapa teman dekat. Andi, Ricki, dan seorang gadis manis berambut hampir cepak bernama Eva. Kehadiran Eva yang selalu berada di dekatnya kadang membuatku terganggu. Eva memiliki semua yang ingin dimiliki wanita. Tubuh tinggi langsing, kulit halus, tulang pipi yang tinggi, dan yang paling mempesona adalah suara tawanya yang renyah serta kerlingan matanya yang manja. Aku mencoba akrab dengan Eva, dan memang pada dasarnya aku merasa lebih cocok dengan Eva daripada dengan kedua temannya yang lain.

Berkat bantuan Eva, aku menjadi lebih akrab dengannya. Makan siang bersama, walau kadang berlima, tapi tak jarang aku hanya makan siang berdua dengannya. Kadang main basket bersama di akhir pekan, meski aku hanya menonton di pinggir lapangan dengan Eva. Ia pun akhirnya menjadi lebih perhatian padaku. Menengokku saat aku sakit demam berdarah dan harus dirawat di Rumah Sakit di bilangan Jakarta Selatan. Bahkan ia menungguiku, ketika keluargaku, yang berdomisili di Bandung, tidak dapat ke Jakarta karena kesibukan masing-masing.

Dan saat akhir pekan, kadang datang ke Bandung, ke rumahku, dan mengobrol dengan kakak laki-lakiku, kadang dengan ibuku. Ia sering memuji ibuku cantik, kecantikannya masih terlihat di usianya yang tidak muda lagi. Dan kemudian setelahnya, ia selalu mengatakan bahwa wajahku mirip sekali dengan ibuku. Dan saat itu pula aku langsung berdebar.

Tidak pernah kusangka aku akan dibuat jungkir-balik seperti ini oleh pemuda berkemeja kotak-kotak hijau yang kukenal tiga tahun yang lalu. Tidak pernah kupikirkan, bahwa aku akan jatuh cinta seperti ini. Bukan hanya sekedar suka karena ia tampan, atau sekedar mengagumi kepintaran si juara kelas, seperti yang sering aku alami sejak masih bocah berseragam putih biru.

Aku tidak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama sampai aku bertemu dengannya. Mana mungkin jatuh cinta hanya dari wajah, hanya dari penampilan? Omong kosong, tidak masuk akal. Namun, mungkin saat itu hatiku telah memberitahu otakku, memberitahu diriku bahwa pemuda berkaus hitam itu akan segera mendapatkan tempat khusus di hatiku. 

Ada sesuatu dalam dirinya. Entah jari panjangnya yang lentik untuk ukuran pria. Entah matanya yang menyipit saat tertawa, namun masih bisa kulihat kilatannya. Entah suara nyaring manjanya. Entahlah. Ada sesuatu pada dirinya yang membuatku tertarik.

Aku masih sering dibuat tersenyum hanya dengan mengingat awal perkenalan kami. Saat itu, di tengah musim hujan, di sore hari, yang membuat semua anak yang berada di kantin enggan beranjak ke kelas, ia tiba-tiba menghampiriku. Dengan senyum manja khasnya, yang sampai sekarang masih sering kurindukan, ia mengulurkan tangannya.

"Hei, gua Kala, gua sering lihat elo di tokonya si Maman. Lo suka AC/DC ya? Sama dong. Gua suka bingung sekarang dikit banget anak yang suka sama rock klasik gitu, pada lebih doyan musik Top 40 yang gak jelas gitu. Eh tapi masalah selera juga sih," tanyanya merepet dengan cepat. Dan aku hanya mengangguk pelan. Dan ternyata anggukanku saat itu tidak cukup untuknya. "Nama lo siapa?" tanyanya lagi.

Ingin sekali kuluruskan pernyataan dia tadi. Aku tidak suka AC/DC, aku hanya beberapa kali ke toko itu mencari CD impor AC/DC untuk hadiah ulang tahun kakakku. Dan karena stok di toko itu habis, aku harus memesannya, dan berulang kali kesana untuk menanyakan jika pesananku sudah tiba. Aku tidak suka musik yang membuat telingaku pekak. Aku lebih suka lagu-lagu pop klasik. Namun urung kunyatakan.

"Hei, gua Rama," jawabku akhirnya. Rasanya terlalu dini kalau kuberitahukan padanya. Bukan hanya tentang preferensi musikku bahkan tentang preferensi seksualku.

No comments:

Post a Comment